In Politics, We Trust!

Come On People

dalam Pojok Karya

Gue menyadari, bahwa peran orangtua dalam tumbuh kembang anaknya itu sangat penting. Layaknya sebuah cermin, perlakuan orang tua terhadap anak itulah yang pelan-pelan membentuk dasar perilaku si anak.

hurt people hurts people

Tadi siang, gue abis nonton Oprah, kali ini bintang tamunya Bill Cosby.

Mereka sedang membahas tentang African American yang hidup di Amerika, yang kita tahu sama tahu bahwa sejak dulu rasisme sudah mengakar kuat di Amrik. Walaupun, sekarang orang negro sudah lebih dihargai daripada jaman dahulu… Tetapi, dalam kehidupan nyatanya, hal itu tidak hilang..

Si Bill Cosby memaparkan tentang tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang negro, kesempatan hidup tipis, lingkungan yang buruk, terkena aids, pembunuhan dimana-mana, narkoba merajalela, kemiskinan dan banyak hal lainnya…

Semua itu, image kebanyakan kaum African American, yang memang tinggal di lingkungan kumuh. Tampaknya, negara Amerika itu pelan-pelan bergerak menuju arah tiranipolis…

Bill Cosby mengatakan semua itu terjadi karena seperti lingkaran setan. Kenapa mayoritas remaja afro-amerika sudah mengecap yang namanya penjara dan melakukan tindak kekerasan?

Karena mereka semua bercermin dari orang tua mereka.

Karena mereka tidak mempunyai sosok ayah di mata mereka.

Karena 70% anak hanya memiliki ibu, yang hanya seorang remaja.

Karena mereka diperlakukan kasar oleh orang tua mereka, di remehkan oleh lingkungan mereka, dan akibatnya sebagai pelampiasan diri, semua kecaman itu benar-benar mereka buktikan.

Bukannya gue sok peduli dengan kejadian yang terjadi di negara lain. Tapi kejadian di negara lain, kata-kata Bill Cosby seperti sebuah cerminan untuk gue.

Bukan hanya di Amerika, di Indonesia juga (kurang lebih laah..) terjadi hal seperti itu. Coba kalian lihat kasus kekerasan geng perempuan itu. Apa-apaan itu!? Sebagai seorang perempuan juga, pantas kalau gue mengatakan kalau mereka gak punya etiket sama sekali. Tapi jangan hanya menyalahkan mereka, sebagai pelaku kekerasan dan.. mungkin juga korban kekerasan. Kita harus lihat lingkungannya, pertama dilihat dari keluarganya. Apakah mereka dibesarkan dengan baik dan benar? Apakah mereka pernah diperlakukan kasar di keluarga mereka? Siapakah lingkungan perkawanan mereka?

Well, kalaupun ternyata mereka mengaku dari ‘keluarga baik-baik’…

Yah, one things i should say… good girl gone bad.

Salah orang tua mereka juga, membiarkan anak-anak mereka bergaul dan masuk lingkungan yang tidak baik. Biar bagaimanapun juga, tanggung jawab orang tua itu sampai anak-anak itu dewasa dan mampu menapakan kaki mereka sendiri. Bukan hanya itu, banyak kasus kekerasan yang kerap kali terjadi.

Contoh gampangnya begini, pernah melihat laki-laki meremehkan perempuan dan berani bertindak kasar dengan perempuan?

Itu semua karena dia dibesarkan dengan pemahaman tidak langsung bahwa perempuan tidak pantas dihargai.

Mungkin dia pernah melihat ibunya disakiti oleh ayahnya, terus menerus, dan ibunya tidak berdaya melawan. Efek psikologisnya adalah, anak itu merasa laki-laki memang harus superior dan bisa bertindak semena-mena terhadap perempuan.

Salah ayahnya? jelas kelihatan bahwa dia bertindak kasar dan menanamkan tindakannya itu di otak anaknya.

Salah ibunya? karena sang ibu tidak berdaya melawan dan terlihat lemah! Itu salahnya! Sehingga menciptakan image bahwa memang-sudah-seharusnya-begitu..

Siapa sangka, sang anak yang tiga puluh tahun kemudian, akan melakukan hal yang sama kepada istrinya dan juga anaknya. Karena, dia juga korban kekerasan pelampiasan ayahnya.

Contoh nyatanya…

Anak itu saat ini masih berusia delapan tahun. Hidup dalam kondisi tertekan karena ayahnya berharap banyak kepada dirinya. Ayahnya berharap anak itu menjadi anak yang pintar dan cemerlang di sekolahnya.

Yang gue tahu adalah, sepupu kecil gue-well call him Julio, seorang anak yang aktif dan masih senang bermain-main. Yah you know lah, khas anak delapan tahun, masih kelas tiga sd…

Gue yakin, Julio adalah anak yang cerdas. Dia bisa saja lebih pintar dan bisa mendapat nilai yang bagus dari Julio yang sekarang kalau dia tidak ditekan oleh ayahnya.

Ditekannya kaya apa?

Hmm, dijewer… dipukul.. dibentak.. ditendang.. , untuk alasan yang menurut gue gak perlu deh pakai kekerasan segala.. ohh please deh oom!

Seorang Julio yang kurus kerempeng melawan ayahnya yang besar dan gendut, itu seperti bayangan neraka bagi gue.Maka, gue enggak heran nilai Julio tidak mengalami kemajuan berarti..

Di suatu malam, dimana kedua ayah bertemu (bokap gue dan bokap Julio) dan berdiskusi di ruang tamu yang dipenuhi asap rokok mereka.. Gue ikutan nimbrung.

“Tam, kamu itu pinter dari kapan sih?” pertanyaan keluar dari mulut si Oom

“Dari SD sih..” jawab gue pelan.

“Si Julio itu lhoo… Mengkhawatirkan banget… sebentar lagi kan dia mau naik kelas tiga (saat itu si Julio masih kelas dua), apalagi SD sudah ada UN sekarang..”

“Yah namanya juga anak kecil, masih suka main-main.. hahaha” bokap gue tertawa

“Tapi, yah… Bingung harus diapain lagi Julio, segala macem udah Oom lakukan (mulai dari urusan les-les dan tentu aja… yang udah gue sebutkan di atas)..”

“Dulu, mas Yugo (nama sepupu gue yang seumuran gue) juga enggak pinter-pinter amat kok.. Kalau cowok emang beda sama cewek Oom. Kemampuan belajarnya baru muncul kalau sudah dewasa, dalam artian, dia sudah mengerti tingkat tanggung jawabnya. Kalau sekarang sih, biarin aja Julio nikmatin masa kecilnya…”

“Tapi yahh kan enggak bisa kaya gitu” si Oom udah mulai resek sama sikap gue yang dukung Julio.

Gue berusaha menjaga nada bicara gue, “Kemaren aku sama mamah abis ikutan talkshow gitu… Seorang anak yang belajar dalam tekanan, walaupun sekeras apapun belajar, tidak akan bisa masuk pelajaran itu ke otaknya. Bahkan bisa jadi benci.. Jadi, kalau belajar itu memang harus dalam keadaan santai.. enggak boleh ada tekanan”

“Bahkan ya Oom, jika sebelum belajar kita menganggap belajar itu menyebalkan. Secara otomatis otak kita tidak mau menerima pelajaran itu. Sistem otak emang kayak gitu..”

Si Oom diem lama sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, “Jadi?”

“Belajar harus dibuat semenyenangkan mungkin,” kataku tegas.

“Tapi waktu kecil Oom juga enggak suka belajar. Wah, bapaknya Oom itu kan dulu orangnya keras banget.. Jam tujuh malam, TV harus mati, semuanya harus udah ada di kamar dan belajar. Kalau enggak, punggung Oom udah merah semua dipukul pake iket pinggang”

“Tiap orang kan beda-beda Oom. Lagian jaman udah berubah”

“Tapi,” disini nada Oom gue sudah mulai naik, “Walaupun sebenci apapun Oom sama bapak Oom dulu, hasilnya bisa Oom lihat sekarang. Rasa benci Oom, Oom ubah jadi prestasi…”

“Tapi Oom, Julio itu bukan Oom” Disini inilah, yang gue bilang lingkaran setan. Si Oom itu menerapkan hal yang paling dia benci kepada anaknya. Dia mengakui bahwa dia benci perlakuan bapaknya. Tetapi dia menerapkan kepada anaknya. Hurt people hurts people.. Dan gue merasa kasihan, kepada Oom gue yang bebal, susah untuk dikasih tahu. Kepada tante gue, yang saat ini sedang berjuang merubah keadaan agar rumah terasa seperti rumah. Kepada sepupu kecil gue, Julio, yang gue harap dewasa nanti dia tidak menjadi seperti Oom gue yang dengan gampangnya bertindak kasar. Intinya sih, semua kekerasan itu berasal dari satu hal: KELUARGA.

Ruang lingkup terkecil tetapi merupakan fondasi dasar karakter manusia.

Maka kepada orangtua muda, besarkanlah anak kalian dengan kasih sayang, contohkanlah hal-hal yang baik, janganlah berlaku kasar, mereka juga manusia, bukan berarti karena mereka adalah anak kalian… kalian dapat berlaku seenaknya.

Untuk merubah Indonesia menuju arah yang lebih baik.

Ubahlah keluarga kita menjadi keluarga yang lebih baik, biarkanlah itu mengakar kuat, menjadi budaya yang akan dilestarikan oleh anak-cucu kita nantinya.. 🙂

bagaimana dengan yang muda? itu dia. Karena kalian-gue, masih memiliki banyak waktu..maka mulailah perubahan itu sekarang…memang ini adalah sesuatu yang gampang untuk ditulis dan susah untuk dilaksanakan. tapi enggak ada salahnya mencoba kan?

***

Tulisan ini sebelumnya pernah dipublish disini. Walaupun hampir sudah satu tahun berlalu, menurut saya pribadi tulisan ini everlasting.

Penulis adalah Rr Nugraheni Widia Utami yang lebih suka dipanggil oleh nama belakangnya; Tami. Dan lebih dikenal sebagai Tami Prasetyo , Mahasiswi Ilmu Politik Angkatan 2008

*Tulisan ybs disadur dari blog HMIP FISIP UI

Terbaru dari Pojok Karya

Refleksi Sepuluh Sebelas

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang
Kembali Ke Bagian Atas