In Politics, We Trust!

Gelas Maba FISIP UI 2014 : Tamparan dari Ilmu Politik

dalam Pojok Karya

Gelar Apresiasi Seni Mahasiswa Aktif Berkreasi tahun ini memunculkan tema Eight Deathly Sins. Delapan dosa besar yang diberikan kepada masing-masing jurusan untuk dihidupkan menjadi karya seni. Mahasiswa baru diberikan ruang kreatifitas untuk bebas menarasikan dosa yang diberikan sebagai sub-tema kepada jurusannya oleh panitia penyelenggara. Sejak dari tema, Gelas Maba tahun ini sudah sangat kental dengan post-modernism. Dengan membagi sub-tema, masing-masing jurusan dipersilahkan menampilkan subjektivitas dan kultur dalam berkesenian. Bukan hanya dari sub-tema, namun keberagaman itu menjangkau ranah genre kesenian yang ditampilkan. Ilmu Politik dengan dosa Wrathberusaha mengangkat Tragedi Reformasi 1998. Kami mengambilan fragmen-fragmen dalam tragedi berdarah tersebut kemudian menarasikannya ke dalam tiga bentuk karya seni: parade, galeri, dan teater.

Menjadi Anomali

Gelaran perdana adalah penampilan parade. Konsep pergelaran ini mirip dengan festival. Setiap jurusan menarasikan dosa-dosanya dalam bentuk parade. Parade berjalan dari tempat tongkrongan jurusan masing-masing ke Teater Kolam—di sana setiap jurusan akan memberikan persembahan. Fragmen yang diambil Ilmu Politik adalah peristiwa aksi massa para mahasiswa yang bentrok dengan aparat negara pada 1998. Almameter yang beragam, tentara yang represif, efek ledakan peluru karet, orasi-orasi yang diteriakan 16 tahun lalu. Menghidupkan kembali fragmen sejarah penting di Indonesia. Kita berusaha—menyitir Gorky—“menyatukan realisme dan romantisme”, menggambarkan “masa depan yang heroik”, dengan suara “lebih cerah”. Anomali mulai kentara jelas saat persembahan. Jurusan-jurusan lain terlihat berbeda namun seragam. Mereka berusaha menarasikan dosa-dosa dalam bentuk persembahan dengan cara yang sama: grotesk. Monolog, alegori; apapun jenis persembahannya, semuanya berpenampilan grotesk. Seperti, jurusan Antropologi mengenakan jubah hitam untuk menggambarkan Despair, atau Kriminologi mempersembahkan monolog yang ditampilkan oleh setan yang rakus untuk menggambarkan Gluttony. Grotesk memang cara yang indah untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak—dalam hal ini dosa, namun sangat klise. Klise itu semakin terlihat jelas karena konsep pergelarannya adalah festival. Bentrok mahasiswa dengan aparat, kalimat-kalimat vulgar, pembacaan puisi Wiji Thukul “Bunga dan Tembok”, pembakaran pocong dengan muka Soeharto. Sebuah fragmen-fragmen kecil yang berusaha dipungut dari masa lalu, disusun rapi, dan dipertontonkan. Ilmu Politik mempersembahkan realisme sosial. Realisme sosial di awal-awal berdirinya, masih bersifat tidak bezkonfliknost. Dapatdiperdebatan apakah benar-benar bisa dikatakan realisme sosial karena ada tarian yang sedikit mengandung post-modern. Saya pribadi berpendapat, secara keseluruhan rangkaian parade, sangat lekat metanarasi dalam karya kami. Bahkan persembahan berupa tarian yang memiliki latar musik Dubstep tersebut, terkandung metanarasi yang kuat di dalamnya. Realisme sosial yang jelas.

Potongan Getir

Ilmu Politik memilih tema pensuasanaan dalam galerinya. Fragmen kecil suasana mencekam yang terjadi pada Reformasi 1998. Sebuah potongan sejarah—yang dielak maupun diterima—pernah terjadi pada saat itu. Tragedi yang membuat mual para pelaku dan korbannya. Kejadian yang sangat sulit diangkat untuk dibahas pada saat ini karena mengandung borok dalam ingatan. Potongan yang berharap untuk dihilangkan dan tak pernah di susun dalam sejarah. Sebuah fragmen kecil yang menampar. Bentuk dari galeri Ilmu Politik adalah rumah yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa. Kami menampilkan keluarga Tionghoa yang berwirausaha. Bagian dari rumah yang kami rangkai adalah toko kelontong yang bersekat dengan ruang ibadah. Tipikal toko kelontong sederhana yang ada di desa. Detail-detail yang subtledisusun rapi seperti sembako, produk-produk makanan ringan yang ada pada tahun 1998, televisi tabung, radio, rak dan meja yang sederhana, hingga yang paling mendetail seperi iklan tempel jaman dulu. Tempat ibadah pun disesuaikan dengan tempat ibadah yang ada di rumah-rumah penganut agama Buddha. Patung dewa, dupa, buah-buahan sebagai persembahan, tulisan berbahasa Mandarin, lilin merah, hingga aroma yang tercium adalah aroma yang sama saat kita menginjakan kaki di rumah keluarga Tionghoa. Skenario yang dibentuk adalah saat juri datang, juri diajak berbelanja di toko kelontong dan melihat-lihat tempat ibadah. Kemudian radio memberitakan ihwal kerusuhan yang terjadi di Jakarta. Pada saat berita habis, orang-orang pribumi berlarian untuk menjarah barang-barang, menghancurkan toko, dan membantai penjaga toko yang beretnis Tionghoa. Sceneini mengingatkan saya dengan salahsatu scene dalam film “The Act of Killing”. Para preman Pemuda Pancasila memperagakan ulang fragmen sejarah saat para-militer membantai orang-orang yang dianggap PKI. Rumah di bakar, bapak-bapak dipukuli dan dibunuh, ibu-ibu dan perempuan remaja diperkosa, anak-anak juga menjadi sasaran kekejian. Sebuah reka ulang, hanya akting belaka. Namun setelah sekenario itu dijalankan, banyak pemeran dari orang-orang yang dianggap komunis merasakan trauma yang nyata. Ada yang pingsan, mengisak tak henti-henti, murung terdiam, dll. Sebuah gambaran bahwa fasisme adalah nyata bentuknya. Kami mengangkat fragmen yang getir tersebut. Kami mempertontonkan kembali kekejian yang pernah dilakukan Pribumi terhadap etnis Tionghoa. Kami membawa fragmen kecil itu, fragmen yang kesannya ter/diabaikan dan ter/dilupakan. Kami menggambarkan sebuah kebencian kolektif yang tertanam dalam pikiran bawah sadar, dan terluapkan dalam sebuah momen. Kami menampar pelaku sejarah dan menjejalkan kenyataan bahwa luka itu pernah terjadi. Membawa kekelaman sejarah bangsa yang enggan untuk diakui. Memaksa semuanya untuk mengingat dan belajar dari itu. “The assassination of Allende quickly covered over the memory of the Russian invasion of Bohemia, the bloody massacre in Bangladesh caused Allende to be forgotten, the din of war in the Sinai desert drowned out the groans of Bangladesh, the massacres in Cambodia caused the Sinai to be forgotten, and so on, and on and on, until everyone has completely forgotten everything” Paragraf diatas saya ambil dari ”The Book of Laughter and Forgetting” dari Milan Kundera. Kundera tidak hanya menjelaskan bahwa suatu event menyingkirkan event lain di kepala, yang menyebabkan mudah lupa, namun dia menggambarkan bagaimana sulitnya mengingat, bagaimana disorientasi dari sudut pandang kita dan sense of time berusaha mengikuti apa yang terjadi. Apalagi sebuah masa lalu yang kelam, yang ingin (bila bisa) dihapuskan dari realita sejarah. “The struggle of man against power is the struggle of man against forgetting,” kata Kundera. Kami mengingatkannya.

Kalian adalah Pelaku

Ide drama “Jalang” terinspirasi dari dua cerpen, “Perkosaan Reswi” yang ditulis oleh Zen RS dan “Clara” yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Bagian yang diambil dari “Perkosaan Reswi” adalah kehidupan bahagia gadis desa yang dipuja-puja oleh warga desa. Kehidupannya kemudian berubah setelah dia diperkosa. Konstruksi stigma yang diberikan masyarakat dan bagaimana masyarakat memperlakukan korban menjadi ide dasar cerita. Hal tersebut kemudian dikawin silangkan dengan cerpen Adjidarma yang mengkisahkan kekejian Pribumi terhadap Tionghoa dan perasaan gadis Tionghoa yang diperkosa pada Reformasi 1998. Butuh beberapa saat sampai akhirnya saya bisa menuliskan bagian resensi teater. Ikataan personal terhadap dua kisah dari cerpen tersebut yang mungkin menjadi penyebab. Saya bertemu dengan kisah itu pada saat SMA. Cerpen yang sangat mustahil menjadi angin lalu. Kisah yang sudah lama mengendap dalam pikiran dan tidak tahu bagaimana cara membaginya. Selama beberapa tahun kisah-kisah itu hanya menjadi ornamen-ornamen di dalam kepala dan asing terhadap dunia luar. Menjadi sebuah pencapaian saat mampu menyaksikan kisah yang selama ini hanya terlipat rapi di kepala menjadi kenyataan. Kegelisahan yang berubah menjadi palu godam untuk membenturkan kepala masyarakat Indonesia bahwa betapa kelamnya sejarah yang kita miliki. Menunjukan bahwa masa lalu itu merintih minta diakui. Ilmu Politik 2014 mengkonstruksikan kisah tersebut dengan “menyatukan realisme dan romantisme”. Tragedi romantis yang sudah eksis sejak Tolstoy diangkat dan didaurulang. Pada scene di mana Syafri berpamitan dengan Dona, kemudian pada akhirnya Syafri tidak mampu memberikan kepastian akan kepulangannya melalui sepucuk surat, mengingatkan saya dengan Andrew Bolkonski yang harus mengucapkan perpisahan kepada Natasha Roztova untuk pergi ke perang Borodino. Kesedihan yang terbentuk secara berulang di setiap zaman. Tragedi romantis akan selalu memiliki keindahnya. Fragmen realisme yang Ilmu Politik 2014 ambil kemudian adalah konstruksi masyarakat terhadap etnis Tionghoa. Bagaikan penekanan dari karya galeri sebelumnya, dalam teater kebencian itu dijabarkan lebih detail dan menyeluruh. Bagaimana kecemburuan sosial menjadi titik awal kebenciaan itu terbangun kemudian kebenciaan itu terakumulasi dengaan kejijikan masyarakat saat adegan Dona selesai diperkosa. Media sub-tema Reformasi 1998 mewadahi penggambaran emosi kebencian masyarakat terhadap Tionghoa. Kemaluan Dona yang berdarah kemudian menjadi alegori bahwa luka itu nyata. Luka yang menrepresentasikan luka yang diidap semua orang Indonesia beretnis Tionghoa. Luka yang sangat ingin diluapkan, namun entah malu atau bingung bagaimana cara mengungkapkannya. Monolog oleh Dona setelah diperkosa laiknya narasi yang tergumamkan di mata orang-orang Tionghoa. Gumaman itu jelas terpancar di airmata-airmata orang-orang Tionghoa. “Apa karena aku Cina, kalian sebut aku jalang?” teriak Dona. Perasaan terkutuk oleh masyarakat karena etnisitas yang bersifat ascribedmenjadi darah yang keluar dari kemaluannya. Darah itu mengalir dari vagina hingga ke mata kaki. Darah itu yang membuat jijik orang-orang Pribumi. Kekejian yang nyata di masa lalu lagi-lagi menghantui masyarakat Indonesia. Ending dari tragedi ini adalah tamparan paling keras yang Ilmu Politik 2014 berikan kepada bangsanya. Dunia diingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi pembunuh. Pelaku kekejian itu bukanlah pelaku yang melakukan pemerkosaan secara literal, namun masyarakat ikut ambil andil dalam mencabik-cabik kehormatan seorang gadis. Sebagaimana masyarakat ingin sekali menutup rapat-rapat lembaran itu dan membuangnya jauh-jauh, namun kami meneriakan dengan lantang persis di telinga, “Kalian memperkosa saya!” *** Ilmu Politik UI 2014 telah melahirkan (Magnum) Opus-nya. Karya yang lahir dari rahim pemikiran kreatif. Diasuh dengan lembut dan kasih sayang dengan kedisiplinan. Dididik dan ditempa dengan keringat dan airmata perjuangan. Bagaikan induk yang insecure, kami tidak mau ada tangan yang ikut campur dalam pemahatan karya kami hingga menjadi kenyataan. Kami punya pikiran, tenaga,bakat dan kemampuan kami sendiri untuk membuat karya yang telah menjadi besar dan esensial. Anak kecil yang tadinya malu-malu di pikiran kemudian kami keluarkan dan besarkan agar menjadi kuat dan gagah. Anak yang telah mengingatkan dan menyadarkan akan realitas sejarah. Sesosok anak yang tangannya besar, kemudian menampar sangat keras hingga kalian terdiam dan gemetar.

Muhammad Hafidh Ma’ruf

Ilmu Politik 2014

Terbaru dari Pojok Karya

Refleksi Sepuluh Sebelas

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang
Kembali Ke Bagian Atas