KASOSPOL UPDATE: Neo-Modernisme Islam (Vol. 2, No.2)

dalam Kasospol Update

“Pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia: Membangun Suasana Beragama yang Inklusif, Plural, dan Modern (?)”

Mengenai Neo-Modernisme Islam

Neo-modernisme Islam sebenarnya merupakan kelanjutan dari usaha-usaha pembaharuan yang telah dilakukan oleh kaum modernis sebelumnya. Artinya, neo- modernisme merupakan kelanjutan diskursus terhadap modernisme Islam. Didalam kajian neo-modernisme, eksklusivitas agama Islam yang dibawa oleh kelompok-kelompok “Islam garis keras” sangat ditentang oleh kaum neo-modernis. Sehingga, neo-modernisme muncul untuk membawa inklusivitas dan pluralitas agama untuk menghindari subyektifitas agama. Pesan yang dibawa tuhan merupakan pemahaman yang bersifat universal, yang berarti pesan tersebut tidak hanya bagi agama Islam saja, tetapi untuk semua agama. Wajah Islam yang ramah dan rasional ingin dibawa oleh neo-modernisme sebagai respon terhadap wajah Islam yang negatif.

Neo-modernisme juga menelaah lebih lanjut pemikiran modernisme yang berargumen bahwa manusia sebagai subyek untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan demi mendapatkan sebuah kebenaran. Kebenaran menurut neo-modernisme adalah sesuatu yang relatif, hal tersebut mempunyai implikasi dalam bagaimana kita mengkonstruksi kebenaran, sehingga kebenaran itu banyak macamnya dan tidak ada kebenaran mutlak (Roesnou, 1992:31). Tetapi, neo-modernisme juga tetap memiliki landasan terhadap modernisme.

Neo-modernisme hadir untuk menawarkan berbagai konsep pemikiran yang baru dan sebagai jembatan ditengah-tengah arus pemikiran tradisionalisme dan modernisme Islam. Liberalisme Islam atau biasa disebut Islam Liberal merupakan salah satu konsep pemikiran neo-modernisme cukup terkenal. Islam Liberal merupakan suatu penafsiran progresif terhadap (teks) Islam yang secara otentik berangkat dari khasanah tradisi awal Islam untuk berdialog agar dapat menikmati kemajuan dari modernitas (Kurzman, 1998:3). Maka dari itu, Islam Liberal tidak menjadikan Al-Qur’an semata-mata menjadi landasan, tetapi Al-Qur’an harus dikaji terlebih dahulu untuk mencari tahu maksud dari wahyu Tuhan didalamnya. Secara umum, agenda/gagasan isu yang dijalankan oleh Islam Liberal tidak jauh dari penolakan terhadap teokrasi (penyatuan agama dan negara), HAM dan emansipasi wanita, pluralisme agama Islam, demokrasi, Islam dan modernitas, serta berbagai macam isu kultural serta modern lainnya.

Mengenai Jaringan Islam Liberal: Aktivitas dan Tujuan Gerakannya

Bulan Maret tahun 2001 yang lalu merupakan awal kemunculan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia. Sebenarnya secara historis, Islam Liberal sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-20an, tetapi para intelektual muda Islam beraliran Liberal mulai mengorganisir dirinya kedalam JIL untuk menyebarkan gagasannya. Beberapa pendiri JIL ialah Luthfi Assyaukanie (dosen Universitas Paramadina) dan Ulil Abshar-Abdalla, seseorang yang memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama (NU). Dengan semboyan “Islam yang membebaskan”, prinsip yang dianut oleh JIL menekankan kepada kebebasan seorang Individu serta Islam haruslah membebaskan individu dari struktur sosial yang menindas (Idris, 2014:368-369). Pergerakan JIL untuk menyebarkan gagasan Islam Liberal banyak menggunakan media massa, seperti radio, koran, dan website. JIL cukup aktif menuliskan artikel seputar perspektif Islam Liberal di koran-koran seperti Jawa Pos, Kompas, Tempo, d.l.l. Tiap kamis sore, JIL menyiarkann wawancara langsung (talkshow) dan diskusi interaktif dengan para kontributor Islam Liberal, lewat Kantor Berita Radio 68H dan puluhan radio jaringannya (Husaini, 2002:4). Kantor Pusat JIL yang berada di Utan Kayu juga ramai digunakan untuk menggelar aktivitas diskusi oleh para intelektual muda Islam. Website JIL yang berlaman islamlib.com digunakan untuk mengunggah semua aktivitas kegiatan JIL— mulai dari kampenye, artikel, buletin, dan talkshow radio—agar lebih mudah diakses masyarakat saat ini sehingga misi untuk menyebarkan Islam Liberal lebih mudah dan cepat.

Jaringan Islam Liberal merumuskan tujuan gerakannya kedalam empat hal (Husaini, 2002:8): Pertama, JIL ingin memperkokoh landasan mengenai demokratisasi melalui penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusivisme, dan humanisme. Kedua, JIL ingin membangun kehidupan/suasana beragama di Indonesia yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan. Ketiga, JIL sangat mendukung dan membantu menyebarkan gagasan keagamaan—terutama Islam—yang pluralis, terbuka dan humanis. Keempat, JIL bertujuan untuk mencegah segala bentuk pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan pro- kekerasan untuk tidak menguasai wacana publik. Dari beberapa tujuan gerakan JIL diatas, tujuan keempat mengatakan bahwa JIL kontra dengan pandangan yang “ekstrem”. Hal itu menegaskan posisi pergerakan JIL—yang penulis lihat—untuk menentang serta menghambat pergerakan Islam Militan atau Islam Fundamentalis (secara khusus di Indonesia). JIL melihat bahwa kebangkitan ekstremisme Islam dapat merugikan kelompok agama lain yang selalu ditekan oleh para ekstremis. Maka dari itu, JIL juga menolak para kelompok-kelompok Islam yang ingin menerapkan syariat Islam secara formal dalam kehidupan. JIL merasa jikalau syariat Islam dilakukan secara formal di Indonesia dan negara Islam terbentuk, maka negara tidak akan netral dalam memandang pluralitas agama di Indonesia dan hal tersebut tidaklah baik bagi keutuhan negara Indonesia. Dengan keyakinan ini, mereka tak akan berupaya mendirikan negara Islam yang menjadikan negara sebagai instrumen agama Islam saja (Husaini, 2002:9).

Pemikiran dan Gagasan yang dibawa JIL

Jaringan Islam Liberal merupakan salah satu motor yang sangat menghargai dan menggerakan tata pemahaman mengenai inklusivitas, pluralitas, serta toleran yang ingin dibawakan kedalam agama Islam—yang juga mencerminkan pemikiran neo-modernisme. Islam harus bersedia merekonstruksi dan menghargai gagasan yang dibawakan oleh pihak lain, yang juga bersedia mendukung berbagai macam perubahan baik sosial, ekonomi, politik dan keagamaan melalui pembebasan pemikiran Islam dari dogmatisme, statis, dan mengekang (Azra, 2002:112).

Dalam konteks sumber ajaran Islam (kitab suci), JIL juga memandang Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat muslim yang bersifat rohaniah, moral, normatif, dan bukanlah sebuah lembaran-lembaran peraturan atau hukum. Dikarenakan bukan merupakan sumber hukum, umat Islam harus terus menerus menginterpretasikan nilai-nilai yang terkandung didalamnya secara holistik, terpadu, dan sistematis, sehingga dapat dikontekstualisasikan sesuai dengan zamannya (Idris, 2014:369-370). JIL tetap percaya bahwa manusia memiliki akal pikiran yang terbatas, sehingga akan sulit bagi manusia untuk mencari tahu dan menginterpretasikan secara tepat maksud dari Tuhan menurunkan ayat suci. Sesuai dengan pemikiran JIL mengenai kitab suci dan toleransi, JIL akan lebih bertoleransi atas keberagaman interpretasi dan membuat dialog dengan pihak yang berbeda, sehingga akan tercipta sebuah peraturan yang dapat mengatur kehidupan bersama dan demokratis (Husaini, 2002:9).

Melanjutkan penjelasan diatas mengenai posisi JIL dalam menolak negara Islam, dalam gagasannya, JIL—yang merupakan salah satu aliran pemikiran neo-modernisme yang juga menekankan demokrasi—menganggap bahwa jikalau negara yang menyatukan otoritas keagamaan didalamnya akan tidak menjadi negara yang demokratis. Didalam negara teokrasi, otoritas dari pemimpin agama (kalau dalam konteks Islam berarti kyai atau ulama) tidak bisa dibantah oleh siapapun karena mereka dianggap sebagai seseorang yang bisa tepat menafsirkan ajaran agama. Ini bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dimana semua orang berhak berpendapat dan menerima pluralitas. Menurut JIL, seharusnya negara dapat berlajan selaras dengan pluralitas interpretasi agama. Selain itu, agama juga dianggap tidak memiliki “privilege transendental” yang tidak bisa disangkal untuk menentukan segala bentuk peraturan ataupun kebijakan publik (Idris, 2014:372). Maka dari itu, agama harus kembali kedalam ruang privat individu.

Antara modernisme dengan neo-modernisme memang terdapat beberapa kemiripan dalam pemikiran, salah satunya adalah membuka pintu Ijtihad selebar-lebarnya. Hal tersebut tercerminkan dari pemikiran JIL yang memang mengedepankan Ijtihad diberbagai aspek. Ijtihad membuka pemikiran rasional para kaum muslimin. Dengan terbukanya pemikiran yang rasional, maka Islam dapat selalu kompatibel dengan perkembangan zaman. Ijtihad— menurut JIL—dapat dilakukan sekalipun dengan tujuan untuk menafsirkan agama Islam karena kemajuan Islam dapat dilihat dari bagaimana cara kita menafsirkannya. Penafsiran Islam yang diperlukan bagi umat Islam menurut Ulil Abshar-Abdalla adalah: (Abdalla, 2003:3)

  1. Islam harus ditafsirkan secara kontekstual sehingga Islam bisa terus kompatibel dengan dinamisnya peradaban manusia. Penafsiran Islam secara literal membuat Islam menjadi terbelakang dan tidak dapat berkembang.
  2. Umat Islam harus melihat Islam sebagai agama yang inklusif, sehingga umat Islam tidak dapat memisahkan diri dari golongan lain. Islam sangat mengedepankan pandangan universal terkait manusia yang sederajat dimata-Nya. Maka dari itu, penafsiran Islam Tradisional yang masih memegang teguh pembedaan kedudukan antara masyarakat muslim dan non-muslim harus dirubah karena tidak sesuai dengan semangat universalisme dan kesejajaran umat manusia.
  3. Penafsiran Islam harus dapat membedakan mana yang merupakan warisan kultural setempat ataupun warisan fundamental. Ajaran Islam banyak sekali yang merupakan warisan kultural pada saat Islam diturunkan di Arab. Ajaran-ajaran Islam tersebut hanya merupakan ekspresi kultural dan masyarakat tidak perlu mengikuti ajaran- ajaran yang bersifat kultural. Yang paling terpenting adalah kita bisa melihat nilai- nilai yang bersifat universal dari warisan-warisan tersebut dan itulah yang harus dipraktekkan.

Argumentasi Penulis Terhadap Neo-Modernisme dan Jaringan Islam Liberal

Penulis sebelumnya ingin menyatakan bahwa penulis sepakat dengan pemikiran Neo- Modernisme Islam dalam beberapa hal. Penulis berpendapat bahwa pemikiran Islam memang harus dilibatkan dalam dunia modern serta meninggalkan ajaran Islam Tradisionalisme yang sangat selektif terhadap ajaran-ajaran yang baru. Neo-modernisme juga berpendapat demikian, bahwa islam harus dilibatkan dalam pergulatan modernisme (Aziz, 1999:15). Akan tetapi, karena sifat dari neo-modernisme itu sendiri yang merupakan sintesis dari paham modernisme dan tradisionalisme, neo-modernisme menjadi lebih akomodatif terhadap (beberapa) ajaran-ajaran budaya yang bercampur dengan ajaran Islam. Dari sisi ini, penulis tidak setuju dengan neo-modernisme karena ajaran-ajaran budaya yang bercampur dengan Islam membuat Islam tidak lagi murni berdasarkan ajaran Al-Qur’an. Memang, neo- modernisme menyortir pemikiran Tradisionalisme Islam, tetapi hal itu membuat wajah dari neo-modernisme yang terkesan hanya mencari “win-win solution” dari pertarungan antara Tradisionalisme dan Modernisme, sehingga penulis terkadang tidak melihat tujuan utama/akhir dari neo-modernisme.

Wajah Islam yang inklusif dan modern yang dibawakan oleh neo-modernisme merupakan sesuatu yang bagus bagi agama Islam. Penulis setuju bahwa dengan Islam yang memiliki wajah seperti itu, maka pandangan negatif terhadap Islam akan bisa ditampik ditengah-tengah masyarakat saat ini. Walaupun neo-modernisme memiliki berbagai macam cabang pemikiran lagi dan maksud dari inklusif dan modern dapat interpretasikan secara berbeda-beda, tetapi secara umum penulis setuju dengan konsep tersebut. Alasan lain penulis adalah Islam pada dasarnya memang agama yang universal, dapat diterima oleh semua golongan karena islam memuliakan martabat manusia (Qodir, 2006:91).

Penulis berargumen bahwa toleransi beragama merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan beragama untuk menciptakan persatuan. Penulis juga berargumen bahwa sikap pluralisme juga penting dalam beragama. Akan tetapi, konsep pluralisme yang dibawakan oleh neo-modernisme menekankan kepada tidak adanya kebenaran mutlak. Penulis tidak setuju dengan pemikiran yang satu ini karena penulis percaya—dalam agama Islam—kebenaran dapat dicari didalamnya. Bagaimana caranya? Dengan mencari kembali esensi murni dari Al-Qur’an dan Hadist. Bagaimana mungkin Allah menciptakan dunia ini dan menurunkan agama Islam beserta firman-firmannya jika tidak terdapat sebuah kebenaran mutlak yang ditujukan bagi umat manusia. Kebenaran memang ada pada semua agama secara menyeluruh, tetapi pada akhirnya akan menuju kepada kebenaran yang tunggal dan absolut (Qodir, 2006:91). Menurut penulis, kebenaran mutlak tidak didapatkan oleh neo-modernisme karena mereka tidak mencari kembali esensi murni dari Al-Qur’an dan Hadist, serta sibuk mencari jalan tengah dari pergulatan antara Tradisionalisme dan Modernisme. Cara mencari kembali esensi dari kitab suci tetap bisa menggunakan cara-cara yang akomodatif dengan perkembangan zaman seperti melibatkan ilmu pengetahuan serta dengan membuka pintu Ijtihad selebar-lebarnya. Maka dari itu, sikap plural yang harus dibangun—menurut penulis— adalah sikap menghargai keyakinan orang lain serta tidak menganggunya.

Argumen penulis terhadap Jaringan Islam Liberal sudah sebagian penulis cantumkan dalam bagian penjelasan mengenai pemikiran dan gagasan JIL, walaupun memang secara tersirat dalam kalimat. Akan tetapi, penulis akan lebih mencoba menjabarkan argumentasi penulis mengenai JIL. Pertama-tama, penulis ingin kembali menyatakan sikap setuju kepada salah satu pemikiran JIL mengenai penerapan syariat Islam secara formal di suatu negara, serta penafsiran kitab suci secara literal. Syariat Islam sejatinya tidak perlu diintepretasikan secara literal dan diformalkan menjadi negara yang berlandaskan agama Islam karena dalam Al-Qur’an maupun Hadist itu sendiri, tidak digambarkan bentuk seharusnya sebuah negara itu seperti apa. Dibandingkan dengan penafsiran secara literal, Al-Qur’an dan Hadist sebaiknya ditafsirkan dengan mencari makna substantif didalamnya dan diterapkan didalam kehidupan. Penafsiran secara literal—menurut penulis—tidaklah tepat karena saat Al-Qur’an dan Hadist diturunkan terpapar kebudayaan setempat yang di satu sisi membuatnya tidak sepenuhnya tepat. Maka dari itu, diperlukannya Ijtihad untuk menginterpretasikan Al-Qur’an dan Hadist agar sesuai dengan perkembangan zaman, tanpa mengubah isinya, tanpa mencoreng maknanya, dan tetap membawa substansinya.

Kritik yang penulis lancarkan kepada Jaringan Islam Liberal adalah mereka tidak mencari lebih dalam dasar-dasar empiris ataupun metodologinya. Menurut penulis, penalaran terhadap kitab suci tidak mantap dilakukan oleh JIL karena terlalu fokus kepada pemberian argumen “win-win solution” didalam fenomena kontemporer. Mengapa metodologi? Argumen ini penulis landaskan berdasarkan argumen dari intelektual lain. Pertama, Haidar Bagir mengkritik JIL dalam artikelnya yang berjudul “Islib Butuh Metodologi” (dalam Wahib, 2006:7), dia berpendapat bahwa argumentasi JIL sejauh ini masih kurang landasan metodologisnya, sehingga banyak pembaca yang meragukannya. Bagir menganalisis argumen JIL mengenai kewajiban jilbab untuk perempuan. Al-Qur’an secara eksplisit mewajibkan jilbab, namun JIL—terutama Ulil—berpendapat bahwa tidak perlu mengikutinya karena itu merupakan warisan kultural Arab yang tidak cocok dengan kita. Dengan demikian, peraturan mengenai pakaian dapat disesuaikan dengan kesopanan publik dan kultural setempat. Dalam argumen ini, ada kesan bahwa Ulil telah memahami ayat Al-Qur’an secara semena-mena. Tidak ada penalaran, metodologi, ataupun dasar empiris mantap yang diajukan oleh Ulil dalam kasus ini selain bahwa umat Islam harus menafsirkan Al-Qur’an melampaui teks. Menurut penulis, karena JIL tidak bisa mengumpulkan dasar empiris dari kitab suci, maka JIL menjadi tidak memiliki sistem yang jelas sebagai visi utama, yang hal tersebut berpengaruh kepada penyebaran Islam Liberal yang tidak jelas kriterianya.

Kesimpulan

Neo-modernisme Islam sebenarnya merupakan kelanjutan dari usaha-usaha pembaharuan yang telah dilakukan oleh kaum modernis sebelumnya. Neo-modernisme hadir untuk menawarkan berbagai konsep pemikiran yang baru dan sebagai jembatan ditengah- tengah arus pemikiran tradisionalisme dan modernisme Islam. Didalam kajian neo- modernisme, eksklusivitas agama Islam yang dibawa oleh kelompok-kelompok “Islam garis keras” sangat ditentang oleh kaum neo-modernis. Sehingga, neo-modernisme muncul untuk membawa inklusivitas dan pluralitas agama untuk menghindari subyektifitas agama. Liberalisme Islam atau biasa disebut Islam Liberal merupakan salah satu konsep pemikiran neo-modernisme yang merupakan suatu penafsiran progresif terhadap (teks) Islam yang secara otentik berangkat dari khasanah tradisi awal Islam untuk berdialog agar dapat menikmati kemajuan dari modernitas.

Salah satu pelopor dari Islam Liberal di Indonesia adalah Jaringan Islam Liberal (JIL). JIL berisikan para intelektual muda Islam beraliran Liberal yang mengorganisir diri untuk menyebarkan pemikiran Islam Liberal di Indonesia. JIL merupakan salah satu motor yang sangat menghargai dan menggerakan tata pemahaman mengenai inklusivitas, pluralitas, serta toleran yang ingin dibawakan kedalam agama Islam. Terdapat banyak pemikiran dan gagasan yang dikemukakan oleh JIL, diantaranya adalah Al-Qur’an sebagai pedoman rohaniah dan moral semata, mengedepankan demokrasi dan menolak formalisasi syariat Islam kedalam negara, dan menyamaratakan semua agama didalam kehidupan beragama.

Penulis berargumen terhadap neo-modernisme dan juga Jaringan Islam Liberal. Untuk neo-modernisme, penulis tidak setuju karena neo-modernisme masih tetap mengakomodir nilai-nilai Tradisionalisme. Penulis setuju terhadap wajah inklusif dan modern, tetapi tidak setuju dengan konsep plural yang mengatakan tidak ada kebenaran mutlak. Untuk Jaringan Islam Liberal, penulis setuju dengan JIL yang menolak formalisasi syariat Islam dan pendirian negara Islam. Tetapi, penulis juga mengkritik JIL yang tidak memiliki landasan empiris serta metodologis dalam berbagai macam pemikiran, argumen, maupun pergerakannya

DAFTAR PUSTAKA

Abdalla, Ulil Abshar. (2003). Islam Liberal dan Fundamental, Sebuah Pertarungan Wacana Yogyakarta: Elsaq Press

Aziz, Ahmad Amir. (1999). Neo Modernisme Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Azra, Azyumardi. (2002) Konflik Baru Antara Peradaban, Globalisasi, Radikalisme dan Pluralitas. Jakarta: Rajawali Press

Husaini, Adian dan Nuim Hidayat. (2002). Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Jakarta: Gema Insani Press

Idris, Muhammad. (2014). Potret Pemikiran Radikal Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia. Jurnal Kalam STAIN Manado, Vol. 8, No. 2

Kurzman, Charles. (1998). Liberal Islam: A Sourcebook. Oxford: Oxford University Press Qodir, Zuli. (2006). Pembaharuan Pemikiran Islam, Wacana dan Aksi Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rousnou, Pauline Marie. (1992). Post-Modernism and The Social Science: Insights Inroads, and Intrusions. Rinceton University Press: Priceton.

Wahib, Ahmad Bunyan. (2006). Questioning Liberal Islam in Indonesia: Response and Critique to Jaringan Islam Liberal. Jurnal Al-Jami’ah, Vol. 44, No. 1

Evan Ihsan Fauzi, Ilmu Politik 2016

*Tulisan ini adalah kiriman dari mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI, konten dan substansi tulisan menjadi tanggung jawab penulis/kreator. Mau karyamu eksis seperti ini? Kirim karyamu melalui bit.ly/UnggahKU.