In Politics, We Trust!

Mahasiswa Ilmu Politik : Minim dan Berisi

dalam Pojok Karya

Suatu pagi di hari Minggu, seorang teman saya, entah ia serius atau sedang berkelakar, mengutarakan pendapatnya pada saya tentang mahasiswi di UI. Ia mengatakan bahwa di UI, pusat mahasiswi yang cantik-cantik berada di Fakultas Psikologi dan FISIP. Bagi saya pribadi, cantik tidak mempunyai ukuran yang pasti. Ia bersifat relatif, tergantung selera orang yang mengatakan. Namun, jika saja saat itu teman saya mengatakan pusat mahasiswi yang berpenampilan menarik adalah, salah satunya, di FISIP, dengan segera saya akan mengiyakan hal tersebut.

FISIP memiliki mahasiswi yang sangat beragam dalam penampilan dan kesemuanya tergolong menarik bagi saya. Kita dapat menemukan mahasiswi yang menutup auratnya dengan baik, mahasiswi yang modis, mahasiswi yang trendi, hingga mahasiswi yang berpakaian minim dalam artian sebenarnya di FISIP. Sebagai seorang mahasiswi politik, saya berusaha untuk mengamati trend ini di jurusan politik. Hasilnya, sejauh ini trend yang ada di FISIP berlaku juga pada mahasiswi jurusan Ilmu Politik.

Hal tersebut ternyata tidak seberapa menariknya dengan kenyataan lain yang saya temukan. Mahasiswi Ilmu Politik ternyata “minim” dan berisi. Dalam pengamatan saya, mahasiswi jurusan Ilmu Politik secara kuantitas tergolong “minim”. Jumlah mahasiswi Ilmu Politik angkatan 2006 maupun angkatan 2007 di FISIP masih bisa kita golongkan dalam kategori sedang, berbeda dengan angkatan 2008 dan angkatan 2009. Angkatan 2008 hanya mempunyai 14 mahasiswi. Angka ini jika dibandingkan dengan jurusan lain seperti HI, Kessos, Sosiologi, Kriminologi, dan lainnya pada angkatan yang sama, tergolong jumlah yang cukup sedikit. Hal yang lebih mengenaskan dialami Ilmu Politik angkatan 2009. Angkatan 2009 menurut beberapa sumber hanya mempunyai sembilan mahasiswi. Angka ini mungkin merupakan angka terkecil bagi banyaknya mahasiswi dalam satu angkatan pada satu jurusan tertentu.

Minimnya kuantitas mahasiswi jurusan Ilmu Politik ternyata diimbangi oleh kualitas mereka yang, bisa dikatakan, bukan kualitas mahasiswi biasa. Mahasiswi Ilmu Politik, setidaknya dari angkatan 2006, 2007, 2008, dan 2009, dapat dikatakan sebagai mahasiswi yang “berisi”. Contoh-contoh di bawah akan menjelaskan hal tersebut.

Angkatan 2006 mempunyai dua mahasiswi pertama yang mampu menyelesaikan studinya dalam jangka waktu 3,5 tahun yaitu Kadek Dwita dan Nur Alia Parawita. Kadek bahkan mendapat predikat cum laude dan beliau merupakan lulusan pertama yang menggunakan metode kuantitatif dalam skripsinya. Angkatan 2006 juga mempunyai Yarra Regita yang merupakan ketua UKOR Sepakbola dan Futsal di UI pada tahun 2009.

Angkatan 2007 mempunyai Fatimah Fildzah, Devy DC, Ania Safitri dan lainnya yang saat ini merupakan punggawa-punggawa dari KMUI. Mereka aktif di dunia pergerakan. Di dunia seni, angkatan 2007 mempunyai Widha Karina. Beliau aktif di dunia teater. Selain itu, angkatan 2007 juga mahasiswi ketua HMIP UI Periode 2009 yaitu S.N. Aulia Djatnika.

Angkatan 2008 mempunyai Elisabeth Sembiring, Aida Rezalina, Ni Nyoman Asti, dan Rr. Nugrahaeni W. U. Ibed, nama panggilan dari Elisabeth, saat ini merupakan ketua OSUI Mahawaditra. Aida dan Asti, saat ini merupakan ketua Departemen Sosial Masyarakat dan Wakil Ketua Departemen Seni dan Budaya BEM FISIP UI 2010. Tami, nama panggilan dari Rr. Nugrahaeni, merupakan Ketua HMIP UI 2010. Di dunia seni, angkatan 2008 mempunyai Debie Octora. Debie merupakan salah satu finalis None Jakarta 2009 dari wilayah Jakarta Utara.

Angkatan 2009 mempunyai Shaviera. Ia merupakan ketua Bakti Sosial HMIP angkatan 2009 dan juga menjadi sekretaris dari FISIP CERIA, acara yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Masyarakat BEM FISIP UI 2010. Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, saya bangga bahwa mahasiswi jurusan ini, meskipun minim secara kuantitas, namun berisi secara kualitas. Mereka mampu mencapai prestasi-prestasi seperti yang dapat dicapai oleh mahasiswa, sekaligus mewujudkan impian Ibu Kartini.

Hidup Mahasiswi Indonesia ! Hidup Ibu Kartini !

***

Ditulis oleh Izul Waulat,mahasiswa Ilmu Politik 2008

*Tulisan ybs disadur dari Blog HMIP FISIP UI

Terbaru dari Pojok Karya

Refleksi Sepuluh Sebelas

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang
Kembali Ke Bagian Atas