In Politics, We Trust!

Mahasiswa,Pedagang, dan PT.KAI

dalam Kasospol Update

Penggusuran pedagang di stasiun-stasiun Jabodetabek telah menjadi isu yang santer kita konsumsi beberapa bulan belakangan ini. Mahasiswa UI terlibat dalam banyak aksi pergerakan bersama para pedagang menolak penggusuran tersebut. Namun ternyata aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa UI ini memiliki pro kontra yang bisa didiskusikan. Setidaknya itulah yang muncul dalam Diskusi Santai bersama Kasospol HMIP UI “Penggusuran Pedagang Stasiun” , pada Rabu, 1 Mei 2013.

Diskusi santai yang diadakan di Pengpol ini tak hanya dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Politik saja melainkan juga dihadiri oleh mahasiswa dari Departemen lainnya serta beberapa perwakilan lembaga seperti Kastrat BEM FISIP UI serta BPM FISIP UI. Sedangkan moderator untuk diskusi ini adalah Amri, Ilmu Politik 2011.

Hal yang menjadi pemicu awal adalah adanya kereta yang tidak lagi berhenti di Stasiun UI. Didapati dalam beberapa berita alasan dari tidak berhentinya beberapa kereta adalah karena sedang dilakukannya percobaan penggunaan kartu Commet Single Trip. KRL Commuter Line tidak akan berhenti di Stasiun UI dikarenakan tidak adanya auto-gate untuk menggunakan kartu Commet tersebut. Selain itu ada pendapat bahwa tidak sterilnya peron stasiun juga membuat uji coba itu tidak bisa dilakukan di Stasiun UI. Karena kejadian itu salah satu peserta diskusi sampai harus menunggu berjam-jam sampai KRL kembali berhenti di Stasiun UI.

Salah satu pertanyaan utama yang menarik dalam isu ini adalah, apakah para pedagang yang ada di peron stasiun itu mengganggu para penumpang?  Para peserta diskusi dengan kompak menjawab bahwa para pedagang itu tidaklah mengganggu. Malah ada yang berpendapat bahwa pedagang di dalam keretalah yang mengganggu para penumpang.

Selain tidak mengganggu para penumpang, tindakan berjualan di peron stasiun itu pun tidak illegal. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Departemen Kasospol HMIP UI 2013, Vavan, para pedagang memiliki kontrak dengan PT. KAI dan telah menyetorkan sejumlah uang sebagai biaya kios kepada PT.KAI. Dengan demikian yang dilakukan oleh para pedagang adalah tindakan yang legal. Namun yang menjadi masalah adalah dalam pembuatan kontrak kedua belah pihak, PT. KAI dan pedagang tidak dalam posisi yang sama kuat. Terdapat klausul bahwa PT. KAI dapat mengambil kembali lahan yang digunakan pedagang saat dibutuhkan. Inilah yang menjadi perhatian sebagai bentuk ketidakadilan.

Aksi yang dilakukan para mahasiswa di stasiun-stasiun kemudian menjadi sebuah perhatian tersendiri. Tidak hanya di Stasiun UI saja, mahasiswa juga bergerak di stasiun-stasiun lainnya yang sedang dilakukan penggusuran. Bahkan mahasiswa juga terlibat dalam bentrok dengan para aparat yang bertugas mengamankan proses penggusuran. Namun tindakan demikian dianggap membuat pihak mahasiswa kelelahan dan kehabisan tenaga. Gusti, Kadepor BEM UI, menjelaskan bahwa yang dilakukan BEM UI Change hanyalah aksi tanpa adanya propaganda. Dan jika gaya pergerakan yang sekarang dipertahankan, maka hanya akan membuat mahasiswa kelelahan. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak bisa meng-cover seluruh stasiun di Jabodetabek.

Pendapat yang senada juga diutarakan oleh Ridho dari Departemen Kriminologi. Saat ini mahasiswa tidak bertarung dengan musuh sebenarnya yakni PT. KAI. Media menggambarkan bahwa mahasiswa hanya berhadapan dengan Satpol PP dan petugas-petugas keamanan lainnya. Baginya mahasiswa juga harus tahu siapa yang dibela. Ada pedagang yang kontraknya belum habis tetapi tetap digusur, namun ada juga pedagang-pedagang “bandel” yang juga ikut dibela. Ridho bahkan menganggap bahwa mahasiswa disini sudah kalah dengan adanya kejadian di Kali Deres dan Pasar Minggu. Ketika dia menanyakan mengenai kabar meninggalnya seorang pedagang di Stasiun Pasar Minggu kepada seorang pedagang, Ibu Ayu, ibu itu tidak tahu mengenai kebenaran dari isu tersebut. Dia beranggapan bahwa teman-teman di pasar minggu telah berbohong.Tindakan manipulatif dilakukan hanya untuk menjatuhkan PT. KAI.

Sebenarnya ada hal lain yang bisa dipikirkan selain cara-cara reaktif yang telah dilakukan sebelumnya. Menurut penuturan Kadep Kastrat BEM FISIP UI, Eko, telah ada ide seperti pelatihan kewirausahaan dan juga relokasi mandiri yang dimiliki oleh BEM FISIP UI yang bekerjasama dengan BEM Psikologi UI. Karena menurutnya saat ini kita harus memikirkan apa yang akan dilakukan ketika penggusuran benar-benar dilakukan. Gusti menambahkan bahwa BEM UI dan Rektorat UI telah memiliki grand design stasiun yang bisa digunakan sebagai tandingan milik PT. KAI dan bisa mengakomodir semua pihak. Selain itu menurut Ridho kita bisa membidik yang lebih atas. Karena menurutnya yang dapat memberhentikan Dirut PT. KAI, Ignasius Jonan, adalah SBY, Dahlan Iskan sebagai Mentri BUMN, atau DPR. Kalaupun ingin membela lebih baik berfokus pada satu stasiun saja yakni Stasiun UI agar tidak menghabiskan waktu dan tenaga mahasiswa.

Kita juga perlu melihat sisi positif dari yang dilakukan PT. KAI. Seperti halnya yang terjadi di Stasiun Bogor. Menurut penuturan Gusti, setelah dilakukan penggusuran pedagang disana penggunaan KRL menjadi lebih efektif. Di Stasiun Bogor telah dibangun tempat parkir yang cukup besar dan menarik para pengguna kendaraan untuk naik kereta. Tempat parkir itu sendiri lebih baik dan tidak lagi mengganggu lalu-lintas seperti dulu. Parkiran tersebut dikelola oleh perusahaan pengelola parkir yang profesional sehingga lebih teratur dan aman.

Semua tindakan pasti memuat pro dan kontra. Perbedaan pendapat adalah hal mutlak dan dapat dijadikan alat untuk membangun. Namun jangan sampai perbedaan pendapat terhadap aksi-aksi yang dilakukan kelompok mahasiswa malah dijadikan sebuah label yang tidak membangun. Salah seorang peserta diskusi, Lutfhi dari Ilmu Politik, mengatakan bahwa jika ada seseorang yang berbeda sedikit pandangannya dengan aksi mahasiswa maka akan segera dicap neolib. Tentu hal ini akan menggerus semangat seseorang untuk mau berpendapat. Sehingga pengatasnamaan sebagai “Mahasiswa UI” perlu dikritisi lebih lanjut. Karena suara mahasiswa secara keseluruhan belum tentu terakomodir oleh mereka yang mengatasnamakan “Mahasiswa UI”.

Tentu setiap tindakan yang dilakukan mahasiswa muncul dari niat yang baik. Namun tetap ada hal yang perlu dipertimbangkan agar tidak keluar dari jalur yang seharusnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam aksi. Opsi-opsi tersebut hanya bisa didapat ketika kita mau mendengarkan pendapat dari orang lain atau pihak yang berseberangan dengan kita. Dan diskusi adalah salah satu sarana terbaik untuk melahirkan sebuah solusi terhadap sebuah permasalahan.

Edbert Gani, Aryo Akmal

Staf Kasospol HMIP UI 2013

Terbaru dari Kasospol Update

Kembali Ke Bagian Atas