Mencintai Bumi Etam secara Demokratis

dalam Kasospol Update

Sebagai seorang yang pernah menimba ilmu dan mencari kebahagiaan semasa kecil di Samarinda, saya ingin menceritakan perkembangan organisasi masyarakat dalam partisipasi politik Samarinda pada saat ini menurut observasi dan opini saya. Samarinda Ibukota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda berasal dari kata Sama Rendah yang artinya tidak ada perbedaan derajat diantara penduduk yang bermukim di Samarinda atau dapat juga diartikan Samarinda merupakan dataran rendah.[1] Masyarakat Samarinda mayoritas menggunakan bahasa banjar yang berasal dari kota Banjarmasin, menurut salah satu masyarakat asli Samarinda hal ini merupakan pengaruh dari sejarah pada masa kerajaan Kutai Kertanegara yang menempatkan masyarakat Banjarmasin bermukim di kota Samarinda.

            Masyarakat asli Kalimantan maupun Samarinda memiliki rasa cinta dan bangga terhadap Bumi etam, Bumi etam menurut masyarakat Samarinda berarti Bumi Kita yang berasal dari bahasa Kutai Kertanegara. Setelah lepas dari sistem pemerintahan yang otoriter di Indonesia pada masa orde baru, rasa cinta dan bangga ini mereka ekspresikan dengan menciptakan organisasi masyarakat asal Kalimantan dan Samarinda, diantaranya terdapat empat organisasi masyarakat yang cukup dikenal yaitu Gepak (Gerakan Pemuda Asli Kalimantan), Gasak Libas (Gerakan Suku Asli Kalimantan Lintas Batas), LPADK (Laskar Pemuda Asli Dayak Kalimantan Timur), Kopasti Gepak (Komite Pasukan Simpati Gerakan Pemuda Asli Kalimantan) dan Pasak Bakudapati (Persatuan Suku Asli Kalimantan). Apabila anda berjalan-jalan ke kota Samarinda tak jarang anda akan melihat orang yang menggunakan atribut organisasi yang telah disebutkan diatas.

Dengan adanya kepercayaan dan nilai-nilai bersama sebagai suatu kesatuan yang ingin memajukan bumi etam, organisasi masyarakat asli kalimantan ini tak luput dari kehidupan berpolitik di Samarinda. Menuju pemilihan kepala daerah pada Juni 2018 nanti, para calon kepala daerah sudah mulai untuk menggandeng organisasi masyarakat yang dinilai berpotensi untuk memberikan banyak suara pada pemilihan kepala daerah 2018 mendatang, kecuali apabila calon kepala daerah ini berasal dari organisasi masyarakat tertentu sudah pasti calon kepala daerah ini akan memprioritaskan kepentingan organisasi masyarakat yang ia jalani. Dalam menggandeng organisasi masyarakat ini tidak dapat hanya dengan tangan kosong, diantaranya dibutuhkan mutualisme atau keuntungan bagi kedua belah pihak, bagi calon kepala daerah yang ingin mendapatkan suara maka ada “mahar” yang perlu diberikan.

“Mahar” yang diberikan bagi organisasi masyarakat ini dapat berupa uang, memberikan lahan bagi organisasi masyarakat tersebut mencari uang dan memberikan janji membuat kebijakan-kebijakan yang akan memberikan keuntungan bagi organisasi masyarakat yang telah bersepakat. Dari pengamatan saya hal yang paling dicemaskan organisasi masyarakat asli kalimantan ini adalah merasa takut terasingkan dari daerah lokal oleh masyarakat pendatang, sehingga mereka menginginkan peningkatan dalam kualitas hidup, terutama masyarakat lokal. Tak jarang setelah pemerintah tidak berhasil meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat lokal, mereka tidak segan-segan untuk bertindak tindakan langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan ritual kekuatan gaib “ilmu hitam” atau bahkan berakhir dengan kekerasan.

Dibalik segala aktivitas “kotor” yang terjadi, setidaknya memang patut disyukuri bahwa negara kita telah lepas dari jeratan pemerintahan yang otoriter. Organisasi masyarakat yang terbentuk merupakan bukti terwujudnya kebebasan untuk berserikat, disisi lain lahirnya demokrasi dapat meningkatkan partisipasi politik masyarakat untuk berperan dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan. Partisipasi politik tidak hanya membicarakan mengenai hasil pemilihan umum saja, terdapat bentuk partisipasi politik seperti yang dilakukan organisasi masyarakat asli Kalimantan yang telah disebutkan diatas, yakni partisipasi politik melalui gerakan sosial baru (New Social Movements).

Menurut Ibu Miriam Budiardjo (2008), gerakan sosial baru ini berkembang menjadi gerakan yang sangat dinamis, gerakan sosial baru ini dinamakan pasca-materialis yang berarti kemajuan industri telah berhasil memenuhi kebutuhan materiil manusia untuk hidup layak. Apa yang dilakukan oleh organisasi masyarakat asli Kalimantan ini bukan semata-mata untuk kesejahteraan satu orang, tetapi untuk satu golongan yang telah menjadi satu dari visi dan misi demi Bumi Etam.

[1] Dikutip dari http://www.samarindakota.go.id/content/sejarah-kota-samarinda Pada 7 Agustus 2017, Pukul 22.19 WITA


Oleh Handy Kurniawan

Departemen Kajian Sosial dan Politik

HMIP FISIP UI 2017

Progresif Bermanfaat