In Politics, We Trust!

Mengapa Perempuan ?

dalam Pojok Karya

I, with a deeper instinct, choose a man who compels my strength,

who makes enormous demands on me,

who does not doubt my courage or my toughness,

who does not believe me naïve or innocent,

who has the courage to treat me like a woman.

~Anaïs Nin

Menjadi perempuan adalah suatu berkah yang patut untuk disyukuri. Karena selain kita yang memberi kehidupan, tetapi kita juga dapat mengkombinasikan yang namanya logika dan perasaan. Dan bahkan memiliki kemampuan yang cukup memukau untuk menjadi multitasking person.

Mungkin daripada disebut sebagai peraya hari Kartini, saya lebih suka dengan konsep International Women’s Day. Kartini itu hanya satu dari sekian banyak tokoh perempuan yang banyak berjasa di Indonesia.

Kalau di International Women’s Day, saya banyak belajar dan berdiskusi mengenai hak-hak perempuan yang masih banyak tidak terakomodir. Di mana perempuan, sebagai seorang individu, masih sering terdiskriminasi. Terlebih lagi topik yang waktu itu (dibicarakan –red.) adalah mengenai korban-korban perempuan tahun 1965.

Kalau di minggu hari Kartini kemarin, herannya tidak ada perayaan khusus di sekitar saya kecuali satu sama lain saling mengucapkan selamat. Perayaan yang terasa adalah ketika buletin himpunan saya mulai mengangkat masalah perempuan sebagai topik pertama kita. Perayaan yang lebih terasa lagi adalah ketika saya berusaha meresapi sendiri maknanya.

Dalam salah satu mata kuliah saya yang membahas politik identitas dan kewarganegaraan, saya belajar satu hal mengenai konsep kewarganegaraan. Bahwa dalam konsep tersebut hanya ada beberapa identitas sosial yang diakui, seperti ras, etnis, agama dan kelas. Tetapi di dalamnya ada satu identitas yang tidak diakui, yaitu gender. Konsep perempuan tidak dimasukan ke dalam citizenship. Perempuan hidup mengikuti aturan/pandangan umum yang berlaku.

Yang paling sering saya dengar adalah seperti ini,

“Tami, kamu tuh ya enggak boleh main futsal. Kan kamu perempuan…”

“Tami kamu tuh ya jangan pulang-pulang, bahaya tahu perempuan pulang malam-malam, sendirian pula”

“Tami, perempuan yang merokok itu masih dipandang enggak baik,” dan masih banyak lagi.

Memangnya kenapa kalau perempuan? Saya kadang suka merasa konyol dengan stereotype yang seenaknya saja berlaku di dalam masyarakat. Futsal itu kan olahraga, jadi siapa saja boleh dong memainkannya kalau suka. Enggak usah menjadi perempuan juga semua orang tahu kalau pulang malam-malam dan sendirian itu berbahaya.Dan merokok itu tanpa harus menjadi perempuan memang enggak bagus buat kesehatan.

Terlepas dari masalah gender yang mengurung cara berpikir kita, saya tipikal orang yang percaya asas kemanusiaan. Yang paling penting adalah menjadi manusia yang sebenar-benarnya dan hidup sebaik-baiknya, terlepas kalian itu “laki-laki” atau “perempuan”. Dan menjadi seorang perempuan tidak menjadi penghalang bagi saya, kok.

***

Ditulis oleh R. R. Nugraheni W. U., yang terobsesi punya kucing hutan

* Tulisan ybs disadur dari blog HMIP FISIP UI

** Judul Blog diadaptasi oleh tulisan, dalam kondisi sebenarnya, tulisan ini tidak berjudul

Terbaru dari Pojok Karya

Refleksi Sepuluh Sebelas

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang
Kembali Ke Bagian Atas