In Politics, We Trust!

Pola Hubungan Ekonomi Antara Kondektur, Pengamen, dan Penumpang

dalam Pojok Karya

Studi Kasus: Damri Jurusan Ledeng-Lewipanjang
dan Deborah Jurusan Depok-Lebak Bulus

Sebuah Studi Perbandingan Observasi oleh Pengguna

Jangan tertipu judul!

Itulah nasihat awal saya untuk Anda yang sedang memegang kertas aneh ini untuk dibaca di tangan Anda (catatan editor: membaca dari balik layar kaca, berhubung ini di blog :p). Cerita ini memang true story, tapi jangan terkecoh oleh judulnya yang panjang dan terkesan ‘ilmiah’. Senyata-nyatanya cerita ini tidak akan mengalahkan kenyataan sesungguhnya bahwa tulisan ini adalah sebuah ‘studi perbandingan dengan metode observasi’ yang dilakukan oleh saya selaku pengguna jasa kedua merk bus terkenal di daerah jajahan masing-masing. Tulisan ini pertama-tama akan membahas tiga elemen penting dunia per-bus-an, lalu melangkah lebih jauh untuk membahas bagaimana hubungan yang terjadi tiga elemen yang ada tersebut di masing-masing kasus. Setelah itu saya akan memberi sedikit analisa ‘konspirasi’ yang cukup cerdik. Tulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan teman-teman yang mungkin memiliki bisnis bus kota kelas ekonomi di Jakarta/Depok/di manalah, memberi referensi lebih bagi para pengguna bus untuk lebih berhitung untuk urusan kantong. Tulisan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran bagaimana keahlian pengamen dan kenek untuk memutar uang. Terakhir, tulisan ini dapat dijadikan referensi untuk teman-teman yang berada di posisi Departemen Dana Usaha yang senang sekali mencari ‘nafkah’ organisasi dengan mengamen, atau memang senang berkelana sambil mengamen, untuk mendapat uang lebih cepat.

Banyak dari kita yang berkelana setiap hari dengan bus kota, apapun namanya. Namun, di antara sekian banyak merk bus, mereka-mereka yang berlabel ‘kelas-ekonomi’ memiliki satu ciri khusus yang, entah kenapa, selalu melekat−bahkan selalu ikut di dalamnya. Ciri tersebut adalah adanya atribut bernama ‘pengamen’ atau bahasanya Katon Bagaskara, para ‘musisi jalanan’. Tetapi tulisan ini tidak hanya akan berfokus pada atribut ini saja. Sebagaimana layaknya penyedia jasa layanan transportasi, bus pun memiliki kondektur yang siap meneriaki calon penumpang di terminal dan di halte-halte. Biar akrab, saya akan pakai istilah ‘kenek’. Para kenek ini selalu punya jargon yang menurut saya cukup asyik untuk didengar dan dihapal. Kenek jurusan Slipi biasanya berteriak ‘Piiii…Piii…’, atau jurusan Blok-M yang khas ‘Blemmmm….bleemmmmm’. Pada kasus Deborah, biasanya mereka pakai istilah ‘Ngareeepppoookkkk..’ untuk arah Depok dan ‘Looosss…boloooosss’ (bukan U, tapi O) untuk arah Lebak Bulus. Kalau Damri arah Ledeng, mereka penggal akhirannya saja, jadi ‘Deenggg…Denggg..’. Satu hal yang menghubungkan entah berapa ratus kenek bis di Indonesia adalah: mereka semua punya keahlian berbicara yang luar biasa cepat. Setelah pengamen dan kenek, tentu kita tidak dapat memalingkan diri dari satu elemen penting dari bisnis per-bus-an, yaitu kita sendiri, para konsumen atau pengguna jasa.

Saya tidak akan membahas mengenai tingkat keberadaban Damri dan Deborah. Tentu, Damri memiliki tingkat keberadaban yang jauuuhhh lebih maju dibanding Deborah, teman-teman yang pernah naik Deborah arah Lebak Bulus di sore hari atau menjelang malam pasti tahu bagaimana ‘keganasan’ isi bus tersebut dan ‘kebrutalan’ si sopir. Justru, saya akan sedikit membahas mengenai hubungan ketiga elemen bus yang sudah disebutkan tersebut dalam aspek ekonomi. Secara sederhana hubungan tersebut dapat disingkat menjadi: si pengamen naik ke bus, menyanyi berbagai jenis lagu dari era entah kapan hingga kapan, si kenek cuek bebek, dan si penumpang sok tidur/dengar musik pakai earphone/ngobrol dengan teman (kalau ada)/mendengarkan dengan seksama lagu yang dinyanyikan si pengamen karena kebetulan suka. Selesai 1-2 lagu, si pengamen akan mencopot topi/mengeluarkan plastik bekas permen/apalah dan menggoyang-goyangnya di depan muka si penumpang, dan penumpang−sepengetahuan saya- jarang ada yang memberi. Ini adalah cerita lumrah di Deborah. Berbeda cerita, pada kasus Damri, apapun lagu yang dinyanyikan oleh si pengamen, penumpang pasti mengulurkan tangannya, dan kantong plastik yang dipakai pengamen dengan cepat terisi oleh tangan-tangan konsumen dari kursi depan hingga belakang. Kenapa terjadi perbedaan cerita pada dua kasus ini? Hal pertama dan satu-satunya yang saya ajukan adalah faktor: HARGA.

Deborah memiliki tarif jauh-dekat Rp 6.000,- (ingat, jurusan Depok-Lebak Bulus, bukan yang ke Pondok Indah, saya tidak tahu harga untuk jurusan yang disebut belakangan tersebut). Di sisi lain, Damri bertarif Rp 1.800,- dari selatan Bandung hingga ke Ledeng yang sudah mendekati Lembang. Bukan masalah lebih mahal Deborah sehingga penumpang sayang-sayang mengeluarkan duit untuk si pengamen, tetapi coba lihat baik-baik, pelototi, dan pahami kebulatan harga yang diberikan oleh kedua bus tersebut.

Logika sederhana, kalau naik Deborah, beri ke kenek pecahan Rp 10.000,- dan akan kembali Rp 4.000,-. Jarang seseorang memberi 1 lembar pecahan 5 ribuan dan 1 lembar seribuan. Nah, karena pengamen biasanya naik di awal-awal perjalanan, alias orang belum pada bayar karena kenek masih sibuk teriak-teriak narik orang buat ikut busnya, maka penumpang malas memberi 10 ribu uangnya untuk pengamen. Saya pernah mencoba bertanya ke pengamen−yang menyanyikan “Another Day”-nya Dream Theatre hampir tanpa kesalahan atau fals (walaupun vokalnya nggak sejernih La Brie) yang membuat saya sangat ingin memberikan uang-, begini: “Bang, duit gua gede, cebanan, lo ada kembalian ga?”. Dia malah bilang “Ah rese lo, bagi rokok sini”. Heran, niat mau ngasih uang malah dipalak rokok. Hal ini berakibat pada pemasukan pengamen Deborah yang, walaupun tetap dapat uang, namun harus bolak balik bernyanyi. Dan tentu saja,seret pemasukan.

Mari kita lihat kasus Damri. Bagi teman-teman yang suka naik MGI untuk pulang ke Bandung atau sekedar berakhir pekan, maka mungkin teman-teman tahu keadaan Damri dan keramahan harganya. Ketidakbulatan harga membuat penumpang biasanya memberi pecahan 2 ribuan atau 5 ribuan. Asumsikan 2 ribuan, maka kembalinya adalah dua ratus perak koinan bukan? Ternyata orang-orang jarang yang mau memegang koin itu. Walhasil, setiap pengamen yang naik, entah dia bagus atau tidak, PASTI diberikan dua ratus perak. Dan ternyata ini siklus sodara-sodari! Si koin dua ratus perak ini beredar dari satu tangan ke tangan lain di bus yang sama. Si kenek memberikannya pada penumpang sebagai kembalian; si penumpang kemudian memberikannya pada pengamen yang naik di bus tersebut; dan terakhir, si pengamen setelah selesai menghitung pendapatannya, menukar koin-koin tersebut kepada si kenek untuk lembaran kertas. Sebuah koin yang penuh ‘makna’ untuk tiga elemen yang ada di satu bus yang sama. Dan tentunya, berputar-putar saja di situ. Si kenek dapat stok koin untuk kembalian lagi, si pengamen senang tidak musti jalan sambil ber-gemerincing-an kantongnya, dan si penumpang senang tidak harus bawa-bawa koin. Semua suka, semua senang. Inilah hubungan ekonomi yang terjadi tiga elemen dalam bus Damri yang berakhir happy ending.

Pada poin inilah, saya ingin mengajukan saran bagi para –kalau ada- juragan bus di FISIP. Kalau ingin uang mengalir di satu bus Anda, coba kurangi sekitar 100-200 perak harga tarif Anda. Selain memberi kesenangan bagi penumpang karena harga bus ‘terlihat’ murah−coba liat DRTV, orang cenderung beli barang seharga 999.900 dibanding yang 1.000.000 kan-, Anda juga memberi kontribusi nafkah bagi para pengamen yang akhirnya mendapat penghasilan ‘lumayan tetap’ dari para penumpang Anda. Saya akan menamai teknik selling ini sebagai “The Damri Trick”. Selain itu, untuk para calon penumpang, saya menyarankan agar sebelum naik ke bus yang mungkin harganya diturunkan oleh para juragan yang ingin mengaplikasikan teknik The Damri Trick ini, selalu siap sedia recehan di kantong Anda. Karena bila tidak, Anda akan cukup ‘keringetan’ memegang recehan di tangan atau kantong Anda gemerincingan. Sehingga lebih baik segera ‘ditukar’ dengan ‘jasa’ radio hidup selama perjalanan, para pengamen. Terakhir, dari fenomena tersebut, maka ada satu teknik bagi para ‘bakal-calon’ pengamen, entah untuk yang memang ingin menekuni profesi penuh amal ini (jelas lebih beramal daripada tidak bekerja dan melakukan apa-apa, bukan? Ditambah bonus memberi hiburan selama perjalanan yang sesak dan pengap untuk para mahasiswa dan karyawan yang menuju kampus atau kantor. Sebuah cara beramal yang sulit ditandingi, apalagi oleh mahasiswa yang lebih senang “mager” alias males gerak), atau pun mereka yang ‘terpaksa’ mengamen karena disuruh atasan (entah untuk pendanaan acara, kas organisasi, dll.). Cobalah mengamen di bus-bus yang memiliki tarif tidak bulat, seperti Damri contohnya. Akan jauh lebih bonafide dibandingkan kalau Anda mengamen di bus-bus ‘pelit’ seperti Deborah. Selamat mencoba “The Damri Trick”, dan apapun resikonya, yang penting cari duit dengan cara jujur. Pelajaran yang amat berharga dari hubungan ekonomi konsumen-pengamen-kenek di bus ekonomi yang seringkali diremehkan dan diacuhkan.

***

Ditulis oleh Beringin A. S. A. K. ( Mahasiswa Ilmu Politik 2008 ) , yang berharap Deborah bisa lebih jinak dalam berkendara dan menaikkan penumpang

*Tulisan ybs disadur dari blog HMIP FISIP UI

Terbaru dari Pojok Karya

Refleksi Sepuluh Sebelas

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang
Kembali Ke Bagian Atas