Politik Punya Cerita: Eps. Alumni Punya Cerita (Maharani Megananda)

dalam Berita Kita/Politik Punya Cerita

Dalam episode Politik Punya Cerita kali ini, kami berkesempatan untuk berkunjung ke kantor Teater Pandora dan mewawancarai Maharani Megananda. Maharani Megananda atau biasa disapa Nanda adalah Alumni Ilmu Politik angkatan 2011 yang akan berbagi cerita mengenai pengalaman dan berbagai kesibukannya di Bidang Teater!

Saat ini, Nanda bekerja di Kantor Staf Presiden yang bekerja langsung dibawah Staf Khusus bidang politik. Selain itu, kesibukannya saat ini adalah mengembangkan Teater Pandora yang merupakan sebuah teater yang berangkat dari teater kampus antara teater FISIP dan Teater Filsafat FIB. Akan tetapi, teater ini tidak terbatas antara alumni FISIP dan Filsafat saja, anggota teater pandora mulai menyebar dan terbuka bagi berbagai fakultas bahkan universitas.

Ketertarikan Nanda akan teater bermula dari pembukaan pendaftaran komunitas di FISIP. Pada saat itu, ia tertarik dengan KMF, KTF, dan Teater Paradoks. “Of course yang paling ramai peminatnya saat itu tentunya adalah KTF, namun seperti yang aku bilang ke semua orang selalu ada meja yang sepi yang memikat perhatian aku dan yang aku maksud disini adalah meja yang tidak ada peminatnya yaitu stand paradoks, dan itu yang membuat aku tertarik” cerita Nanda. Setelah beberapa kali mengikuti latihan, awalnya Nanda merasa kurang puas akan teater Paradoks. Sehingga ia juga mencoba mengikuti Teater UI, namun setelah latihan yang sudah cukup lama diikuti dan padatnya perkuliahan di semester satu yang banyak menyita waktu, ia pun mengundurkan diri dari Teater UI. Beberapa bulan mengikuti Paradoks, Nanda di tunjuk sebagai calon ketua dan dia memberanikan diri untuk menjadi ketua Paradoks.

Sejak itu, Nanda mulai mencari tau tentang teater. Nanda pun berusaha membenahi teater paradoks yang saat itu sudah cukup lama vakum dan tidak memiliki sistem latihan yang jelas dengan melakukan banyak penelitian dan mencari tahu tentang mata kuliah pementasan IKJ dan banyak berbicara dengan penggiat seni, pengalaman pribadi menjadi bagian dari OSIS di SMP dan SMA sangat membantu dirinya. “Saat SMP dan SMA aku juga menjadi ketua OSIS. Sehingga ketika diberikan amanah, aku ngga mau ketika nantinya aku turun jabatan itu, meninggalkan jabatan dengan kesan buruk. Dalam artian, aku meninggalkan banyak PR untuk para penerus aku nantinya. Karena aku sangat terorganisir dan aku percaya perlu mati-matian untuk membangun Paradoks untuk mencapai seperti sekarang.” Teater paradoks yang dulunya dianggap remeh mulai bangkit dan banyak memenangkan berbagai penghargaan, serta menampilkan banyak pementasan bahkan sekarang sudah banyak di kenal di dunia Teater.

Teater Pandora sendiri terbentuk karena adanya rasa kemauan untuk membuat suatu wadah komunitas yang mandiri dan tidak membawa nama fakultas atau pun nama universitas, sehingga terdapat tempat selain kampus untuk mengembangkan kemampuan dibidang teater bahkan bekerja sama dengan rumah produksi dengan menggunakan bakat-bakat dari Teater Pandora, serta untuk menggapai impian Nanda untuk membuat teater pandora dapat menghidupi anggotanya. “Aku pengen membuat teater ini, walaupun belum gaji UMR, namun ada yang bisa mereka dapatkan dari ini” sambung Nanda.

Dalam menyusun naskah teater sendiri, Nanda sering membawa isu-isu politik yang sedang berkembang saat di Paradoks hingga sekarang di Teater Pandora. Menurut Nanda, apabila kita menjadi anak politik kita juga harus memiliki daya yang kritis yang dapat ditumpahkan dalam sebuah karya sehingga dapat berkontribusi untuk bangsa. Bagi Nanda, mengkritik pemerintah tidak harus selalu berbentuk demo, tetapi kita juga dapat menunjukkannya dalam bentuk seni karena menurut Nanda kesenian adalah bentuk yang paling netral.

Setelah lulus dari Ilmu Politik, Nanda langsung mendaftar magang di Kantor Staf Presiden. Awalnya, Nanda hanya ingin mendaftar di bagian “LAPOR” Unit Kerja Deputi 1 Kantor Staf Presiden. Akan tetapi, ternyata dirinya diterima di Kantor Staf Presiden. “Awalnya aku kira karena tidak di telpon mungkin aku tidak lolos. Ternyata malah diterima di KSP-nya dan Alhamdullilah dari tersisa delapan peserta, aku yang dipilih untuk bekerja disitu” sambungnya. Ketika diwawancara untuk menjadi bagian dari Kantor Staf Presiden, ia menunjukkan minatnya akan teater dan hal tersebut pula yang menjadi nilai tambah Nanda dalam wawancara kerja karena dalam CVnya sendiri sudah banyak pengalaman dalam bidang teater.

Dalam pekerjaan, Nanda bekerja langsung dibawah staf khusus Presiden bagian politik dan memiliki konsen terhadap bidang kepemudaan terutama di bidang bisnis, komunitas, budaya dan kesenian. Karena hal tersebut pun membuat Nanda dapat bertemu dengan berbagai organisasi kepemudaan seperti GMNI, BEM Seluruh Indonesia dan lainnya.

Bagi Nanda, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan baik seni maupun olahraga, asalkan jangan dipikirkan apakah nantinya dunia kerja akan melihat hal tersebut atau tidak. Justru hal tersebut merupakan nilai tambah bagi diri kita saat wawancara. Nanda percaya bahwa yang kita perlukan adalah fokus dan selalu konsisten akan hal apapun yang kita lakukan dan percaya hal tersebut akan membawa sesuatu yang berguna bagi masa depan.


Bidang Hubungan Masyarakat

HMIP FISIP UI 2017

Progresif Bermanfaat

Narahubung : Kiel (081212895922)