In Politics, We Trust!

Refleksi Sepuluh Sebelas

dalam Pojok Karya

 “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang telah ia lakukan.” – Herlina (Si Pending Emas)

Ada seorang pejuang yang pernah berkata bahwa hari ini adalah hari kedua yang patut diperingati sebagai hari besar negara Indonesia, hanya dikalahkan oleh 17 Agustus. 10 November, Hari Pahlawan. Hal tersebut ingin mencerminkan bahwa tanggal 10 November begitu bermakna untuk bangsa ini. Memiliki arti yang mendalam di dalam perjuangan dan perjalanan bangsa. Sebuah peringatan yang akan terus diingat sebagai cara kita untuk selalu mengingat seberapa banyak liter keringat dan darah yang mengucur untuk terciptanya kedaulatan negara dan dalam upaya mempertahankannya. Namun siapa di antara anda yang mengingat bahwa ini adalah hari Pahlawan karena tweet atau status BBM orang lain?

Tak perlu merasa malu jika itu adalah anda. Pada kenyataan saat ini memang kita didorong ke arah dimana kita harus mementingkan kekayaan diri masing-masing terlebih dahulu sebelum mengingat negara. Kita dibuat semakin jauh dari jalur-jalur negarawan. Begitu sedikit celah waktu yang bisa membuat kita teringat atau setidaknya mengintip akan apa yang dibutuhkan oleh negara saat ini. Memikirkan negara adalah membuang waktu dan tak penting. Cukuplah saya kenyang dan nyaman di sofa empuk yang ada di rumah sambil menonton berita-berita bobroknya moral bangsa. Kebobrokan tadi dianggap sebagai hal yang lucu dan menjadi ciri khas guyonan orang Indonesia. Korupsi adalah hal biasa yang membudaya. Orang lapar dan putus sekolah hanya dicap sebagai mereka yang tidak beruntung. Apakah demikian?

Dunia pendidikan tak jauh berbeda. Biaya perguruan tinggi mengalami trend  kenaikan setiap tahunnya. Mahasiswa digerakkan untuk mencari nilai yang baik saja agar cepat-cepat keluar dari kampus dan bekerja. Karena kalau tidak mereka harus membayar biaya kuliah semester yang bahkan bisa menghidupi mereka yang miskin dengan layak. Universitas negeri tak ubahnya menjadi universitas swasta. Pendidikan disamakan nilainya dengan barang-barang biasa yang diperjualbelikan, sebutlah privatisasi. Tonggak pertumbuhan bangsa itu seakan begitu rapuh dan tak diberi humus untuk tumbuh dengan baik. Bibit-bibit muda menjadi frustasi untuk menatap cita-citanya dan ideologi dipaksa kabur. Tak ada waktu untuk memperingati Hari Pahlawan di saat kita tereksploitasi.

Bagi saya Hari Pahlawan adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Apa yang sudah kita lakukan sampai saat ini? Sudah banyak? Lalu mari tanyakan lagi, seberapa banyak yang dilakukan untuk negara? Mulai ragu-ragu?

Pada momen ini saya diberikan kesempatan yang sangat baik dalam memaknai Hari Pahlawan. Kemarin kampus saya kedatangan seorang tamu yang istimewa. Ia adalah seorang pahlawan pembebasan Irian Barat yang kontribusinya besar untuk negara namun sampai saat ini tak pernah ada buku pelajaran sejarah yang saya baca dari SD, SMP, SMA yang memuat namanya. Ia adalah si ‘Pending Emas’. Dalam acara tersebut ia begitu bersemangat memberikan paparannya mengenai jiwa kepahlawanan menurut versinya. Dan dari dia ada hal-hal penting yang begitu menggetarkan saya. Apakah itu?

A7P_v5xCUAAvDDNSudah lama tidak ada orang yang membuat saya bergetar saat berbicara mengenai Indonesia. Ia berdiri dengan kakinya yang pendek dan berbicara tanpa menggunakan mic yang telah disiapkan oleh panitia. Dari luar ia tak ubahnya seorang nenek-nenek biasa. Namun ketika ia berbicara, saya yang muda pun malu dengan diri saya sendiri. Ia membuka dengan kata “Merdeka!” kata yang begitu dalam maknanya untuk ia yang telah berusia melebihi usia negeri ini. Kagetlah mereka yang merasa bahwa pembicara yang nanti akan berbicara hanyalah nenek-nenek yang sudah sepuh yang bahkan berbicara sudah tidak jelas kemana-mana.

Tatapan matanya begitu dalam melihat satu persatu wajah pemuda-pemuda yang terpaut jauh usianya dengannya. Dari tatapannya saya bisa menangkap betapa api perjuangan masih menyala-nyala di dalam dirinya. Dan ia terlihat begitu bergembira. Gembira karena masih dihargai oleh cucu-cucunya untuk berbicara di depan dan gembira karena ia bisa untuk kembali meluap-luapkan semangatnya yang sudah tersimpan lama dan begitu gatal untuk dikeluarkan di depan banyak orang.

Banyak hal yang saya dapat dari nenek itu. Betapa rasa cintanya begitu besar terhadap Indonesia. Daya ingatnya begitu baik sampai membuat saya malu. Ia begitu semangat menceritakan perjuangan bangsa yang telah dilewatinya dari masa orde lama. Dan dari kata-katanya, ia begitu berharap kepada pemuda-pemudi yang berada di hadapannya untuk meneruskan apa yang telah ia buat. Mungkin memang berbeda sekali orang yang mencintai negara dari lubuk hatinya.A7P_agqCcAAv2TE

Saya berpikir apa rasanya menjadi nenek itu. Ia hidup dengan melihat perjalanan bangsa. Ia bisa dengan jelas membanding-bandingkan pemerintahan yang satu dengan lainnya. Mungkin rasa gatalnya terhadap hal-hal yang melenceng dari tujuan bangsa begitu menyiksa. Gelora masa muda seakan tak mau pergi dari pundaknya yang kecil itu. Dan apakah ia diingat oleh orang-orang? Rasa bingung anda saat membaca sebutannya si ‘Pending Emas’ saja sudah bisa menjawab betapa ia terlupakan dari sejarah bangsa.

Ada hal yang bisa saya petik dari pengalaman saya bertemu dengan pahlawan seperti nenek itu. Rasa cinta kepada bangsa. Seperti layaknya cinta pertama yang sulit untuk dilupakan dan terus akan membekas di dalam hati, rasa cintanya kepada Indonesia tak pudar dimakan usia. Rasa cintanya menyadarkan saya betapa ceteknya rasa cinta saya kepada negara, betapa sedikitnya hal konkret yang telah saya lakukan untuk Indonesia. Ucapan-ucapannya begitu terasa mencambuk diri saya untuk bergerak karena tak ada hal yang sia-sia untuk sebuah perbuatan yang bertujuan untuk negara. Baginya Indonesia adalah cinta pertamanya karena akan terus membekas di dalam hati.

Tak perlu saya utarakan siapa nenek itu. Silahkan saja anda mencari sendiri mengenai sejarahnya di internet atau buku-buku. Saya hanya ingin mengutarakan bahwa pengetahuan kita terhadap sejarah bangsa masih begitu dangkal. Kita belum menjadi negara besar yang selalu mengingat sejarah dan tokoh negaranya. Kita mungkin merasa sangat tahu tentang Indonesia dan berkoar-koar seakan kita tahu segalanya, Namun buku-buku sejarah di sekolah-sekolah hanyalah sumber-sumber yang meninabobokan kita untuk lebih melek terhadap tubuh Indonesia secara menyeluruh. Bahkan saya mulai ragu terhadap sejarah yang selama ini selalu berada di permukaan. Mempelajari bangsa ini tak cukup hanya duduk di kelas saja.

Salah satu kata yang sangat saya sukai yang dilontarkan dari nenek itu adalah “Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang telah ia lakukan.” Ya, tak ada seseorang yang dipanggil pahlawan tanpa ada yang diperbuat sebelumnya. Masalahnya adalah betapa sedikitnya yang mau berbuat sekarang ini. Pahlawan-pahlawan seperti hanya ada di masa lalu. Mungkin mereka yang telah berpulang ingin sekali keluar dari kubur masing-masing dan menampar satu per satu pemimpin negara saat ini  yang menjadi penjajah baru dari masyarakat yang mereka cintai ini.

Saya ingin menjadi seperti nenek itu. Orang yang secara konkret berbuat untuk negaranya. Menjadi orang besar yang tidak diminta untuk terus disebut-sebut namanya dimana-mana karena perbuatannya. Hidup dan menua tanpa kehilangan rasa cinta terhadap negara. Memberikan warisan sejarah bagi penerus-penerusnya. Dan saya mulai bertanya, sudah berbuat apa saya?

Selamat Hari Pahlawan, untuk mereka yang ingat bahwa mereka hidup karena ada yang berjuang sebelumnya membuat dan mempertahakan apa yang disebut Indonesia.

Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Edbert Gani , Mahasiswa Ilmu Politik UI 2012 ,

http://fragmented-mind.blogspot.com/2012/11/refleksi-sepuluh-sebelas.html

*Tulisan ybs diambil dari blog HMIP FISIP UI

 

Terbaru dari Pojok Karya

Kembali Ke Bagian Atas