WAJAH PATRIARKISME DIBALIK FILM “WONDER WOMAN”

dalam Kasospol Update

   Tulisan ini merupakan tulisan opini penulis yang terinspirasi dari sebuah film yang sangat ditunggu-tunggu oleh penulis, tetapi berujung pada sebuah kekecewaan bagi penulis sebagai orang yang berjuang untuk hak perempuan setelah menonton film ini, juga dengan dorongan salah satu teman (M. Hafidh Ma’ruf) yang membuat saya tersadar seharusnya kekecewaan itu disebarkan melalui sebuah tulisan agar bermanfaat bukan hanya menjadi sebuah emosi sumbu pendek semata. Film “Wonder Woman” adalah sebuah film produksi Warner Bros, Pictures dan disutradarai oleh Patty Jenkins yang merupakan film yang menceritakan tentang sejarah kelahiran Wonder Woman sebagai salah satu karakter Superhero dari DC Comics. Film ini menceritakan seorang perempuan bernama Diana Prince yang diperankan oleh Gal Gadot, Diana Prince merupakan putri dari suku Amazon yang berada di pulau Themyscira dengan bercita-cita untuk menjadi pejuang tangguh dan dapat menolong seluruh manusia yang menderita untuk menciptakan kehidupan damai di dunia. Pulay Themyscira merupakan pulau yang diciptakan khusus oleh Zeus untuk ditinggali oleh para perempuan tanpa kehadiran sosok laki-laki, para perempuan tersebut memiiki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup dan saling melindungi diantara mereka. Film ini mulai memasuki fase konfliknya disaat seorang laki-laki bernama Steve Trevor (Chris Pine) yang ditemukan oleh Diana tenggelam bersama sebuah pesawat di pulau tersebut dan oleh Diana laki-laki tersebut diselamatkan.

    Tak lama setelah itu ada sebuah serangan dari segerombol pasukan yang memang mengejar Steve sampai ke Themyscira dan mendapat perlawanan dari perempuan suku Amazon sekaligus saat itu Steve menyelamatkan nyawa Diana yang membuat Diana bertekat bulat untuk ikut Steve yang berjanji membawanya ke medan perang demi menyelamatkan nyawa umat manusia tak bersalah terutama para perempuan dan anak, kuatnya tekat Diana dibuktikan dengan melawan perintah ibunya sang Ratu Amazon Hippolyta untuk tetap tinggal. Diana meninggalkan pulaunya dengan membawa pedang “Godkiller” dan mimpi besarnya bersama kebohongan besar Steve untuk meraih kepentingannya membawa kemenangan negaranya dari Perang Dunia ke-II saat itu melawan Jerman. Kepergian Diana sekaligus membawa alur cerita film ini pada konflik besar dan takdir sebenarnya bagi Diana sebagai Wonder Woman.

     Sebelum penulis menuliskan titik kekecewaan penulis terhadap film yang diharapkan setidaknya dapat merepresentasikan sebagian nilai perjuangan Femisnisme kepada dunia tetapi nyatanya hampir tidak ada realisasi ekspetasi tersebut, sebuah teori dari Carole Pateman yaitu The Sexual Contract.

contract

  Dalam The Sexual Contract, Pateman memparkan bahwa perempuan selalu ditempatkan pada kelas kedua dalam kontrak sexual yang ada di tengah masyarakat saat itu yang melahirkan ketidakadilan gender terutama untuk para perempuan, padahal seharusnya yang terjadi terjadinya perlakuan yang adil bagi semua manusia (Pateman,1988). Kelas kedua yang ada dalam The Sexual Contract tersebut menciptakan sebuah dikotomi antara ruang privat dan ruang publik. Kaum perempuan digambarkan menjadi kelompok yang harus berada dalam ruang privat dimana ruang lingkupnya adalah urusan rumah tangga atau kalau di Indonesia kita kenal dengan istilah “sumur-dapur-kasur”, perempuan juga harus  mengikuti fungsi pengatur perekonomian keluarga dengan anggapan laki-laki lah yang memutuskan semuanya sebagai kelompok yang dapat bermain diruang privat maupun ruang publik walaupun dominan di ruang publik dengan kebebasannya. Pateman juga membahas bahwa kondisi ini sebenarnya tidak sesuai dengan sebagian prinsip dasar demokrasi yang menjunjung freedom dan equality. Maka kelas kedua yang dinobatkan kepada perempuan pun seharusnya tidak terjadi dan tidak dapat diterima oleh kaum perempuan yang memiliki hak sama dengan laki-laki untuk bisa keluar dar zona nyamannya, melakukan apapun yang mereka mau termasuk aktif di dalam ruang publik seperti misalnya ranah ekonomi, sosial, dan politik (Pateman,1988).

Wonder-Woman-Gal-Gadot-and-Chris-Pine

   Apa yang dipaparkan oleh Pateman dalam The Sexual Contract sebenarnya secara tidak langsung ditunjukan secara tersirat dalam film Wonder Woman ini saat part dimana Diana ikut dengan Steve kembali ke tempat tinggalnya sebagai seorang petugas intelijen pada armada angkatan darat Amerika Serikat, Diana yang menggunakan pakaian khas “Wonder Woman” yang digambarkan begitu mencolok ditambah pula dengan pedang yang dibawa olehnya sangat menarik perhatian warga sekitar saat itu terutama perempuan, hampir semua perempuan pada masa itu menggunakan pakaian-pakaian yang dikonstruksikan merupakan pakaian untuk para perempuan seperti gaun, rok panjang, juga pakaian “Feminin” lainnya, serta memiliki tutur anggun dan yang paling berkesan bagi penulis sangat ditunjukan oleh film ini para perempuan memang berlindung dibalik kekuatan besar laki-laki yang berada di garda terdepan untuk melakukan peperangan sementara para perempuan cukup menjadi entitas yang “menghibur” laki-laki saat tidak berperang, mengurusi anak, mustahil untuk ikut berperang dan menjadi tentara, atau yang paling menyedihkan menjadi korban bersama anak-anak ketika berada di pihak yang kalah.

    Dari awal film ini sampai part diatas, sebenarnya film ini sudah sangat baik menunjukan sebagian gambaran pemikiran Feminisme saat seluruh perempuan ditunjukan memiliki kehebatan juga kekuatan yang luar biasa untuk bertahan hidup, beraktivitas, dan melindungi dirinya walaupun tanpa kehadiran  seorang laki-laki seperti yang digambarkan oleh suku Amazon dan sebaliknya di dunia realita modern perempuan yang hidup bersama laki-laki malah ditempatkan sebagai kelas kedua yang lemah, harus dilindungi, diikat dengan berbagai pranata sosial, dan tidak memiliki andil dalam perjuangan menciptakan sejarah.

    Namun titik kekecewaan besar penulis terhadap film ini dimulai dari part pertengahan dimana, perasaan cinta antara Wonder Woman dan Steve mulai tumbuh disitulah Wonder Woman mulai lengah karena memiliki kepercayaan serta patuh pada sebagian perintah Steve yang ditunjukan bahwa Steve sebenarnya ingin melindungi Wonder Woman dari hal yang dapat mencelakainya padahal Diana sudah sangat jelas seorang Superhero yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan manusia biasa lainnya termasuk Steve, tetapi mengapa tetap digambarkan Steve harus melindungi Wonder Woman? Apakah karena dia perempuan biarpun seorang Wonder Woman?.

    Di hampir akhir film ini, merupakan bagian yang benar-benar menurut penulis mengirimkan pesan kepada penonton yaitu saat pertarungan Wonder Woman melawan Ares yang selama ini dia cari karena anggapan Ares lah penyebab terjadinya perang di dunia, Wonder Woman hampir kalah dan kehilangan nyawanya namun dapat bangkit kembali untuk mengalahkan Ares kerena kekuatan cinta yang diberikan oleh Steve sebelum Steve meninggalkannya, dari kekuatan cinta itu Wonder Woman digambarkan memiliki semangat untuk bangkit kembali juga menyadari bahwa dengan kasih sayang lah manusia dapat saling melindungi. Part tersebut bagi penulis tetap menunjukan bahwa kemenangan yang diraih oleh seorang perempuan tetap disebabkan oleh peran dominan laki-laki karena tanpa semangat dar Steve, Wonder Woman tidak akan bangkit untuk mengingat segala yang sudah dilewatinya. Steve menjadi alasan untuk Wonder Woman meraih kemenangan bahkan untuk selanjutnya menjadi Superhero yang menyelamatkan dunia dengan bayang-bayang Steve.

    Pesan tersebut yang pada akhirnya membuat ekspetasi penulis sangat terlanggar, walaupun disisi lain penulis meyakini bahwa kekuatan kasih sayang atau cinta kembali kepada diri setiap perempuan masing-masing karena bisa menjadi sebuah kelemahan tetapi juga menjadi sebuah kekuatan. Namun ekspetasi terhadap Wonder Woman bagi sebagian pejuang hak perempuan termasuk penulis yang setidaknya dapat merepresentasi bahwa perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama seperti laki-laki jika diberikan kesempatan dan ranah yang sama walaupun secara kodrat berbeda menurut penulis. Film Wonder Woman diharapkan oleh penulis tidak hanya sebagai alat komodifikasi yang mengikuti selera pasar dan tetap membawa nilai kemenangan patriarkis dibaliknya, tetapi juga menyampaikan suatu pesan perjuangan sebagai film besar yang dapat ditonton oleh setiap pasang mata di dunia yang dapat menginspirasi para perempuan yang menyaksikannya.

   Namun lagi-lagi menurut penulis dalam kesimpulan tulisan opini ini, uang yang berkuasa, cinta yang berbicara, dan laki-laki yang mendapatkan kemenangan. Semoga akan ada suatu film suatu hari nanti yang juga memiliki kekuatan hegemoni dan menyasar pasar besar dengan mengangkat nilai feminisme dan perjuangan murni kelompok perempuan untuk mendapatkan keadilan.

“I will fight, for those who can not fight for themselves.”
— Diana Prince

 

Daftar Pustaka

Pateman, Carol, The Sexual Contract (Cambridge : Polity Press, 1988).

Wonder Woman (2017), yang diakses dari http://www.dccomics.com/movies/wonder-woman pada 11 Juni 2017 pukul 23.15pm.

Synopsis Wonder Woman, yang diakses dari http://www.21cineplex.com/wonder-woman-movie,4549,17WWON.htm pada 11 Juni 2017 pukul 22.31pm


Oleh Rana Anis Baswedan

Departemen Kajian Sosial dan Politik

HMIP FISIP UI 2017

Progresif Bermanfaat